SHARE THIS ARTICLE

Tradisi yang merupakan ciri khas dari Jepang datang lebih dini di Jepang saat para geisha dan mereka yang masih dalam pelatihan mendapat pengalaman dalam merasakan sejarah ibukota kuno ini dan seni pertunjukan mereka.

Dikenal di Kyoto sebagai “geiko” dan “maiko”, ke-62 wanita muda tersebut berkeliling kota dengan bus pada tanggal 22 Januari dengan berbagai perhentian di sepanjang jalan untuk mengamati kerajinan rakyat tradisional, mencicipi masakan “washoku” dan melakukan kegiatan merangkai bunga ikebana di tempat.

Geisha dan trainee mereka mempraktekkan ikebana di Kyoto pada 22 Januari. (Tomoyoshi Kubo)
Geisha dan trainee mereka mempraktekkan ikebana di Kyoto pada 22 Januari. (Tomoyoshi Kubo)

Kelompok ini berasal dari lima “kagai,” atau area hiburan tradisional dari kota tersebut. Lokakarya tur ini diselenggarakan oleh Yayasan Ookini, sebuah kelompok keuangan yang bekerja untuk melestarikan dan mewariskan seni pertunjukan tradisional dari Kyoto.

Para wanita ini mengunjungi Kyoto Museum of Traditional Crafts di Sakyo Ward untuk mengamati  kimono yang dicelup “yuzen” dan kipas lipat “sensu,” dan kemudian memakan masakan tradisional Kyoto “kyo-ryori” di restoran yang telah lama berdiri.

Di kuil Rokkakudo di Nakagyo Ward, para geiko dan maiko mengunjungi Ikenobo, sebuah sekolah ikebana (merangkai bunga), di mana mereka melakukan tur di museum dan juga menerima berbagai pelajaran dalam merangkai bunga.

“Saya menyadari bahwa setiap alat, hidangan dan bunga penuh dengan jiwa dari sang penciptanya,” kata Tomitsuyu, salah satu maiko yang turut berpartisipasi. “Saya akan melakukan berbagai upaya dengan tulus untuk menyenangkan para pelanggan dengan keramahan yang tulus.”

Source : ajw.asahi.com
COMMENT