SHARE THIS ARTICLE

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara dalam kesempatan bincang-bincang di acara ulang tahun Kaskus, Kamis (6/11/2014) kembali mengutarakan komitmennya untuk memblokir konten pornografi di internet.

Aturan baru yang melarang kepemilikan pornografi anak di Jepang tak mencakup seni komik manga yang terkenal itu.
Aturan baru yang melarang kepemilikan pornografi anak di Jepang tak mencakup seni komik manga yang terkenal itu.

Rudiantara mengatakan akan tetap melanjutkan kebijakan pemblokiran konten negatif, seperti situs-situs porno. Yang mengejutkan, anime dan manga, sebutan untuk film animasi dan komik Jepang, juga termasuk yang tetap diblokir.

Hal tersebut sontak memicu banyak pendapat dari kalangan netizen di Indonesia, terutama di jejaring sosial Twitter. Banyak yang berkomentar di Twitter bahwa Menkominfo yang baru itu sama saja dengan pendahulunya, Tifatul Sembiring yang fokusnya hanya ingin memblokir konten pornografi di internet.

Dilansir TechInAsia pada Jumat (7/11/2014), konten-konten pornografi itu disebut Rudiantara (dalam kapasitas pribadi, bukan Menkominfo) harus diblokir karena literacy atau kepintaran masyarakat Indonesia dinilainya belum siap mengkonsumsi hal tersebut, termasuk anime dan manga.

Rudiantara mengatakan bahwa apabila masyarakat Indonesia sudah sepintar masyarakat di Amerika contohnya, maka pemerintah tidak perlu memblokir konten negatif. Karena masyarakat di sana sudah bisa lebih membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Namun perlu diketahui juga, bahwa seperti situs berbagi video Vimeo, tidak semua konten yang ada dalam situs anime dan manga mengandung konten pornografi. Meski memang ada pula situs anime dan manga yang secara khusus menampilkan komik-komik dan animasi bergenre seks. Genre ini dikenal dengan sebutan “hentai“.

Apakah mungkin pemerintah menganggap semua anime dan manga di internet itu adalah hentai? Menanggapi hal tersebut, KompasTekno mewawancarai praktisi industri komik dan anime di Indonesia, Marlin Sugama.

Menurut wanita pendiri “Main Studio” itu, bisa jadi pemerintah memang tidak tahu bahwa tidak semua anime dan manga adalah hentai. “Atau bisa jadi pemerintah juga tidak mau tahu, jadi asal main blokir saja,” demikian kata Marlin.

Ditambahkannya, upaya pemerintah untuk memblokir konten pornografi di internet, termasuk dalam situs web anime dan manga, adalah upaya yang sia-sia. Sebab menurutnya pengguna internet saat ini sudah pintar-pintar.

Daripada buang duit, mending buat bantu promosi konten lokal, toh kalau ditutup masih bisa pakai proxy,” kata Marlin.

Saat ditanya apakah dengan pemblokiran konten luar justru akan membantu konten lokal, Marlin menyatakan ketidaksetujuannya. “Analoginya tidak bisa berbanding lurus seperti itu, sekarang industri konten hubungannya langsung global,” ujar Marlin.

Menurut Marlin, akan lebih bagus bila konten lokal terekspos dengan semua pasar di luar. Dengan memiliki wawasan (insight) tentang kondisi pasar internasional, maka industri lokal bisa mengikuti perkembangan tren dan tidak akan terkungkung.

Kalau developer mau berhasil, mau bikin (komik dan anime) laku di pasar, mereka harus bikin yang unik, harus research dulu (dengan melihat pasar global),” terangnya.

Namun, di sisi lain, Marlin juga mendukung pemblokiran konten pornografi dalam anime dan manga, asal dilakukan dengan metode yang tepat. “Kalau saya, ada warning sebelum akses konten setuju, diterangkan bahwa ini adalah mengandung konten dewasa,” ujar Marlin.

Karena menurutnya, ada negara-negara yang menganggap bahwa konten pornografi berbau tabu, namun ada juga yang tidak.

Selain itu, Marlin juga menyarankan pemerintah untuk melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat. “Pemerintah bisa melakukan penyuluhan ke orang tua, ini lho mainan anak-anak zaman sekarang, sehingga orang tua bisa berkomunikasi,” ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Menkominfo Rudiantara sendiri dalam kesempatan open house di kediamannya, Selasa (28/10/2014) menyatakan siap untuk berdiskusi dengan berbagai kalangan untuk membuat kebijakan yang tidak merugikan industri kreatif di Indonesia. Rudiantara mengatakan, walau blokir konten tetap berjalan, namun industri kreatif akan tetap mendapat dukungan.

Source : tekno.kompas.com
COMMENT