SHARE THIS ARTICLE

Berwisata ke Jepang, tak lengkap jika tidak mempelajari sedikit soal sejarah terbentuknya bangsa ini. Salah satu tempat yang syarat akan sejarah dan budaya yang wajib dikunjungi ketika pergi ke Negeri Sushi adalah Kuil Toshogu yang terletak di kaki pegunungan Nikko. Menariknya lagi, kuil ini sudah dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1999.

Pusara Dewa Shogun Tokugawa (1)
Pintu utama menuju Kuil Toshogu di Nikko, Jepang. (foto: Agung Kurniawan)

Di tempat ini, jazad Shogun pertama Ieyasu Tokugawa dikuburkan dan dibangun kuil Shinto dengan beberapa bangunan tradisional khas Jepang. Shogun Tokugawa sangat dihormati seluruh warga Jepang karena berkat jasanya berhasil menyatukan seluruh negeri dalam satu komando kepemimpinan.

Shogun Tokugawa

Ieyasu Tokugawa berhasil merebut kuasa Pemerintah Jepang dari pertempuran Sekigahara pada 1600 sampai era Restorasi Meiji 1868. Ieyasu menerima penunjukan sebagai Shogun pada 1603 dan turun takhta hanya dalam dua tahun (1605). Tetapi, kepemimpinan Shogun tetap berkuasa, bahkan ketika Ieyasu wafat pada 1616.

Keshogunan Tokugawa juga dikenal sebagai Keshogunan Edo menggunakan gaya pemerintahan diktator militer yang sarat feodalisme. Selama masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa disebut zaman Edo karena ibu kota Jepang dulu bernama “Edo” yang sekarang menjadi Tokyo.

Pusara Dewa Shogun Tokugawa (2)
Sosok yang dipercaya sebagai Ieyasu Tokugawa, penguasa Jepang di dinasi Edo, (Foto: Agung Kurniawan)

Kepemimpinan Ieyasu kemudian dilanjutkan oleh keturunannya hingga 200 tahun lebih. Selama ini juga, Jepang solid menjadi satu wilayah dan merasakan kedamaian dalam hidup dan memperbesar kesejahteraan. Kemasyhuran Shogun Tokugawa juga dikenal hingga ke luar Jepang, dibuktikan ketika Ieyasu wafat, banyak sumbangan kerajinan-kerajinan terbaik dari seluruh penjuru dunia untuk menghormatinya.

Ieyasu wafat dan dikebumikan pertama kali di Kunozan Toshogu kemudian dipindahkan ke Nikko Toshogu. Kuil Toshogu didirikan pada 1627, dibangun khusus untuk memuja Tokugawa Ieyasu (Tosho Daigongen) yang berhasil membangun dinasi Edo selama lebih dari 200 tahun. Melalui kuil ini, Toshogu disetarakan menjadi dewa.

Sakral

Ketika pertama kali berkunjung di tempat ini, suasananya terasa begitu sakral. Pohon-pohon tua berusia ratusan tahun hidup asri di sekeliling kuli ini. Nuansa hijau, abu-abu, coklat, dan emas, terpancar dari lokasi ini. Udara sejuk dan kerap hujan mempertebal suasana khusyuk bagi para peziarah yang mau berdoa di kuil ini.

Bangunan lentera batu atau akarikago setinggi dua meter, yang menjadi simbol dari para bangsawan “daimyo” berjejer di sepanjang jalan menuju kuil. Jalan yang dipijak tertutup dengan kerikil-kerikil kecil, hampir di seluruh akses hingga pintu masuk kuil.

Pusara Dewa Shogun Tokugawa (3)
Terdapat salah satu bangunan yang menyimpan semacam tandu yang digunakan Shogun selama memimpin Jepang. (Foto: Agung Kurniawan)

Lokasi lereng pegunungan Nikko dipadu dengan Kuil Toshogu seolah tercipta gambaran ideal seperti apa kondisi zaman Edo, beratus-ratus tahun yang lalu. Tempat ini juga tersirat presepsi Shinto, yakni hubungan manusia dengan alam. Mereka melihat gunung dan hutan masih memiliki makna sakral, sebagai obyek pemujaan, dan praktik keagamaan ini masih lestari hingga hari ini.

Tidak tersedia jajanan, baik makanan maupun suvenir, layaknya lokasi wisata di Jepang lainnya. Untuk wisatawan disiapkan beberapa lokasi khusus untuk membeli jimat keberuntungan dalam hidup. Di salah satu pojok kuil, pengunjung bisa mengabadikan diri dengan kamera melalui petugas fotografer yang sudah siap tersedia.

Pusara Dewa Shogun Tokugawa (4)
Suasana sakral tetap dijaga, karena meski menjadi tempat wisata, kuil ini masih aktif jadi tempat berdoa. (Foto: Agung Kurniawan)

Untuk kenang-kenangan, toko baru tersedia jauh di luar kuil, ke arah jalan akses masuk area sakral.

Source : travel.kompas.com
COMMENT