SHARE THIS ARTICLE

Kita biasa mengenal bajak laut dari Pirates of Caribbean atau One Piece yang didasari pada kisah-kisah bajak laut Eropa. Tapi selama hampir sembilan abad (abad ke-9 sampai abad ke-17), perairan Asia Timur (kisaran Jepang, Cina, dan Korea) juga diarungi oleh kelompok-kelompok perompak laut. Mereka dikenal sebagai wakou.

Nama wakou berasal dari “wa” (倭) yang berarti “orang Jepang” dan “kou” (寇) yang berarti “perompak”. Nama ini merupakan serapan dari bahasa Mandarin “wokou”, yang artinya sama, nama yang diberikan oleh orang-orang Cina yang sering jadi sasaran mereka. Para bajak laut ini bermarkas di bagian barat Jepang, khususnya di Pulau Tsushima, Pulau Iki, Pesisir Matsuura (Nagasaki), dan pulau-pulau kecil di kisaran Setonaikai (Seto Inland Sea, lautan yang diapit oleh dua pulau besar Jepang, Shikoku dan Honshu). Mereka menjarah kapal dagang, merampok desa-desa tepi pantai, dan memalak kapal yang melewati daerah kekuasaan mereka.

Meski dikenal sebagai wakou, pada perkembangannya bukan cuma perompak Jepang saja yang mengarungi tepi barat Samudera Pasifik, tapi juga perompak Korea dan Cina.

Berawal dari Nelayan Lokal

Sebelum dikenal luas dengan nama wakou, pada awal abad ke-9 di tepi Barat Jepang, tepatnya di sekitar Honshu, Shikoku, dan Kyushu, beredar perompak yang gemar membajak kapal dagang yang berlayar dari satu provinsi Jepang ke provinsi lainnya. Mereka bersembunyi di goa-goa dan pulau-pulau kecil sembari menunggu kesempatan menjarah kapal-kapal yang membawa beras. Bajak laut ini berasal dari nelayan-nelayan setempat yang butuh pemasukan tambahan dan dikenal dengan nama kaizoku (perompak laut).

Para kaizoku awalnya bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dan cenderung tidak terlalu terorganisasi dengan rapi. Meski demikian, karena dianggap menguntungkan, semakin banyak nelayan yang bekerja sambilan sebagai bajak laut dan semakin rapi organisasinya. Beberapa bajak laut bahkan punya koneksi dengan bajak laut Korea, yang juga mengarungi pesisir barat Jepang.

Semakin banyak kelompok-kelompok bajak laut hingga pada abad ke-10 kaisar sendiri akhirnya resah. Perdagangan antar-provinsi terganggu, begitu pun dengan kapal-kapal yang datang dari Cina dan Korea. Saat itulah para tuan tanah setempat yang punya kemampuan bertempur ditugaskan oleh kaisar untuk menumpas bajak laut dan bandit-bandit. Para tuan tanah ini menjadi cikal-bakal kaum samurai.

Di antara para tuan tanah, salah satu yang dikenal dekat dengan kaisar adalah klan Taira, klan yang di kemudian hari menjadi klan samurai besar dan terkenal berperang melawan klan Fujiwara dalam Perang Genpei (1180–1185). Klan Taira merupakan klan yang sangat berpengaruh di pesisir barat Jepang; mereka dikenal mahir menangani bajak laut dan menguasai lautan Setonaikai. Kuil Itsukushima, yang terkenal dengan torii (gerbang kuil Shinto) yang berdiri di pesisir lautan, merupakan kuil yang didirikan untuk mengenang kemahsyuran salah satu anggota klan Taira, Taira Kiyomori.

Pengaruh klan Taira yang besar bahkan memungkinkan mereka untuk bekerja sama dengan beberapa bajak laut untuk menyelundupkan barang. Kedekatan para kaizoku dengan klan Taira memungkinkan mereka untuk mengenakan baju zirah seperti samurai dan menggunakan lebih banyak macam senjata seperti naginata (semacam pedang dengan pegangan panjang) dan yari (semacam tombak).

Berlayar ke Pesisir Korea

Baru di abad ke-13 para perompak laut Jepang go international dan mulai dikenal sebagai wakou. Musim paceklik yang berkepanjangan dan kegagalan panen yang terus-menerus di Jepang memicu bukan cuma nelayan buat bertualang di laut, tapi juga para petani. Pergantian rezim di tahun 1185 juga menjadi pemicu; pusat pemerintahan pindah ke Kamakura, jauh di tepi timur Jepang, sehingga para bajak laut yang bermarkas di tepi barat cenderung lebih bebas berulah.

Sasaran pertama para wakou adalah Korea. Selain karena punya koneksi dengan orang Korea sebelumnya, saat itu Korea juga sedang diserbu oleh Mongolia sejak tahun 1218, sehingga pesisir pantai mereka sering tidak terjaga. Dan penjarahan pertama pun dilakukan pada tahun 1223. Berturut-turut selama tahun 1225, 1226, dan 1227, para bajak laut menjarah pesisir Korea.

Aksi para wakou membuat Kerajaan Korea resah. Butuh kira-kira 50 tahun bagi Kerajaan Korea untuk menghentikan penjarahan para wakou. Saat itu, tahun 1273, putra mahkota Korea menikah dengan putri Khubilai Khan dari Mongolia, sehingga Korea mendapatkan bantuan armada untuk menjaga pesisir. Selama satu abad aksi wakou pasang-surut; pada pertengahan abad ke-14 wakou kembali marak ketika Jepang dilanda perang saudara dalam periode Nanboku-chou (1334-1392).

Berbeda dengan para kaizoku yang beroperasi di perairan Jepang dan tidak perlu mengarungi lautan tanpa daratan selama berhari-hari, para wakou lebih banyak menggunakan baju kain seadanya, atau malah hanya celana dalam. Pakaian mereka cenderung ringan karena dalam aksi penjarahan mereka selalu bergerak cepat. Senjata mereka tidak begitu bervariasi, hanya katana, tapi katana itu kemudian yang menjadi simbol kengerian bagi pihak yang menjadi korbannya. Salah satu catatan sejarah mengenang mereka sebagai “tukang jagal yang menari dengan pisaunya, datang dan pergi tanpa diduga, dan bagai monster yang melayang saat berjalan.”

Penguasa Lautan: Wakou Sang Pembajak dan Pedagang

Meski sudah punya riwayat 5 abad, wakou baru betul-betul menjadi ancaman serius pertengahan abad ke-14 saat mereka tumbuh sangat besar dengan hadirnya pengaruh Cina. Saat itu wakou tidak hanya menjadi penguasa tepi barat Samudera Pasifik, tapi juga dekat dengan politik (para daimyo), mengatur perdagangan dengan Belanda, dan menjarah pesisir Kalimantan…

*bersambung ke bagian berikutnya*

.

Diolah dari:

Kung, James K., and Chicheng Ma. “Autarky and the Rise and Fall of Piracy in Ming China.” The Journal of Economic History 74.02 (Juni 2014): 509-34.

Turnbull, Stephen R., dan Richard Hook. Pirate of the Far East: 941-1644. Oxford: Osprey, 2007.

COMMENT