SHARE THIS ARTICLE

Tokyo ternyata mempunyai permasalahan sosial yang cukup berat. Keberadaan tunawisma di sana menjadi sisi lain dari gemerlapnya Kota Tokyo.

 Mengenal Lebih Jauh Tunawisma di Tokyo (Foto : Al Jazeera)

Mengenal Lebih Jauh Tunawisma di Tokyo (Foto : Al Jazeera)

Minoru Ebata sedang berdiri di sebuah persimpangan Jalan Shinjuku (dekat Tokyo). Dia menggelar tempat tidur lipat yang dimiliki dan mencoba tidur di tempat pejalan kaki. Kadang Ebata juga tidur di jembatan penyeberangan dengan menggunakan selimut sederhana agar tidak kedinginan terkena angin malam.

Keadaan akan sulit jika turun hujan,”ujar Ebata yang sudah dua tahun menjadi tunawisma, seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (28/10/2014).

Tidak jauh dari tempat Ebata, kita akan bertemu dengan Kazuo Oka, tunawisma yang juga pengumpul kaleng bekas. Dari hasil pekerjaan itu, ia memperoleh 3.000 yen (Rp. 336.000) per hari.

Penghasilan saya harus dihemat agar bisa bertahan hidup. Pemerintah tidak mau menolong karena saya sudah tua,” ujar Oka.

Pemerintah Tokyo sendiri mengklaim angka tunawisma berada pada level terendah. Namun, banyak pihak yang merasa ragu akan angka tunawisma di Tokyo itu.

Hasil penelitian dari Tokyo Metropolitan Government menunjukkan bahwa angka tunawisma pada Agustus 2014 sebanyak 1.697 orang, menurun dibandingkan Agustus 2013 yang sebesar 1.877 orang.

Saya masih meragukan data pemerintah,” kata Jeff Kingston, peneliti dari Temple University of Japan. Data tersebut memang menunjukkan penurunan, tapi tidak signifikan.

Sementara Gubernur Tokyo Yoichi Masuzoe mengatakan, permasalahan tunawisma di sana sangatlah kompleks. Seperti pengangguran, pemerintah sudah berupaya memberi pekerjaan untuk mereka, ditambah bantuan makanan. Namun, justru hal itu membuat banyak orang ingin menjadi tunawisma.

Kami bisa menyediakan fasilitas, seperti pekerjaan dan bantuan tempat tinggal. Namun, mereka memang niat menjadi tunawisma, mereka tidak mau ikut program pemerintah,” ujar Masuzoe.

Pemerintah Tokyo sudah berupaya memberikan jaminan sosial bagi para tunawisma. Mungkin para tunawisma “sukarela” –sengaja memilih pekerjaan tersebut– yang menyebabkan jumlah mereka tetap banyak.

Di tengah kelesuan perekonomian Jepang dan adanya program sosial dari pemerintah, banyak orang justru tertarik menjadi tunawisma “sukarela” di Tokyo. Tetapi, keberadaan tunawisma harus tetap diperhatikan oleh pemerintah agar Kota Tokyo tetap bersih.

Source : news.okezone.com
COMMENT