SHARE THIS ARTICLE

room

Sudah menjadi suatu mitos di Jepang jika ada tempat tinggal di mana penghuni sebelumnya telah meninggal di hunian tersebut maka tempat tersebut dianggap sial. Tidaklah aneh jika ada rumah tinggal, hotel, ataupun apartemen di mana telah terjadi bunuh diri, pembunuhan, atau kematian lainnya yang disewakan dengan harga yang jauh lebih murah dari biasanya. Bangunan di mana sebelumnya tempat tersebut telah menjadi tempat kematian disebut jiko bukken“atau jika diterjemahkan bangunan insiden,” sebuah ungkapan ambigu mirip dengan Jinshin jikoatau “kecelakaan manusia“. Namun pertanyaannya apakah hunian tersebut akan laku disewa? Tentu saja! Seorang agen real estate bernama Chizuko mengungkapkan jika hunian tersebut memiliki target konsumen bagi warga yang mempunyai tingkat ekonomi rendah.

IMG_7309

Contohnya adalah seperti seorang pria berusia 40 tahun bernama Yamada, dulu ia bekerja sebagai pekerja pengiriman dan mulai tinggal di apartemennya pada bulan Juni 2012. Apartemennya terletak di Shinjuku Ward di pusat kota Tokyo dan berusia lebih dari 20 tahun. Namun untuk ukuran daerah pusat ibukota, harga sewanya cukup mencengangkan yaitu hanya 40.000 Yen per bulan, setengah dari harga sewa pada umumnya. Alasan apartemen ini disewakan dengan harga murah adalah bahwa penyewa sebelumnya ditemukan tewas karena penyakit dan Yamada pun sudah mengetahui hal tersebut. Apartemen tersebut direkomendasikan oleh temannya yang bekerja di bidang properti real estate dan langsung merekomendasikan “bangunan insiden” kepada Yamada. Temannya mengatakan jika Yamada harus bergerak cepat jika tidak mau didahului oleh orang lain, karena hunian tersebut cukup laku dengan alasan harganya yang murah. Bahkan setelah lama tinggal di apartemen tersebut Yamada sendiri mengatakan Saya tidak terganggu oleh penyewa sebelumnya dan saya sangat puas dengan hal itu sebagai tempat tinggal.”

url

Apakah dengan harga yang sangat murah termasuk melanggar hukum? Jawabannya adalah tidak, karena ini merupakan adat dalam industri properti di Jepang dan preseden ini dipublikasikan oleh Urban Renaissance Agency (UR) yang memiliki sekitar 750.000 properti sewa di seluruh negeri Jepang. Bahkan alasan “bangunan insiden” ini pun tidak hanya karena kasus pembunuhan dan bunuh diri saja tetapi ada juga kasus karena sang penghuni adalah lansia dan akhirnya meninggal tanpa ada yang mengetahui di huniannya tersebut.

Jika dilihat dari sisi hukum, menurut Morita, seorang pengacara yang mengkhususkan diri dalam bidang real estate, ada kewajiban hukum untuk memberitahu penyewa atau pembeli 5 sampai 7 tahun setelah kecelakaan (meskipun sekarang ada cara untuk mengetahui apakah seseorang telah meninggal di kamar yang akan kalian tempati). UR bahkan dapat mengetahui sebab kematian lebih mendetail seperti mengetahui tanggal penyewa yang meninggal, tanggal mayat ditemukan, usia dan jenis kelamin, dan sebab meninggalnya korban. Namun uniknya hal tersebut tidak menyurutkan minat warga Jepang untuk tinggal di “bangunan insiden” tersebut karena menurut data sekitar setengah hunian kamar sudah terisi dalam kurun waktu satu bulan saja. Alasan utamanya adalah karena kurangnya perumahan sosial bagi warga yang berpenghasilan rendah. Ketika ditanya tentang mengapa perumahan sosial begitu sedikit selama delapan tahun terakhir, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata merespon: “Banyak bangunan yang dibangun selama periode pertumbuhan yang tinggi sedang diganti dan Pemerintah daerah mengalami kesulitan keuangan , dan mereka belum sempat untuk membangun bangunan baru.”

Jadi apakah kalian percaya bahwa sebuah ruangan di mana seseorang telah meninggal sebelumnya akan membawa nasib buruk bagi penghuni selanjutnya? Jika Ya, maka jangan sekali-kali untuk mencoba tinggal di “bangunan insiden” kecuali jika kalian memang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Source : japantoday.com
COMMENT