SHARE THIS ARTICLE

Bagaimana jika seorang prajurit samurai dan seorang ksatria abad pertengahan bertarung satu sama lain dengan senjata mereka sendiri? Siapa yang akan bertahan dalam pertandingan?

Japan Armored Battle League , Jay Noyes (fourth from left), CEO of JABL, Armors, and assistants opening ceremony, at Roppongi, The Pink Cow on Feb. 9, 2014. Gakugei-bu Hongo reports. YOSHIAKI MIURA PHOTO
Siap untuk pertempuran: CEO Japan Armored Battle League Jay Noyes (tengah, memakai jas), dengan para petarung JABL dan asistennya, merayakan acara pembukaan di Pink Cow di Roppongi, Tokyo. | Yoshiaki MIURA

Jay Noyes, CEO dari Japan Armored Battle League (JABL), menyiapkan grup untuk acara perdananya pada 23 Februari. “Ini adalah pertempuran berisi kekuatan penuh dan pukulan keras,” ujar Noyes, yang berumur 45 tahun.

JABL akan menampilkan para pejuang samurai yang mengenakan armor dan pedang dari era feodal (1185-1573/1600), melawan para ksatria Eropa dari abad ke-15.

Menurut Noyes, yang juga adalah seorang petarung dalam acara tersebut, acara hari Minggu ini akan menjadi pertempuran abad pertengahan pertama yang “asli” yang bertempat di Jepang, dan sangat mungkin menjadi kejadian pertama dalam sejarah ketika seorang samurai dan ksatria saling bertarung.

Berbagai liga olahraga seperti Historic Medieval Battles dan International Medieval Combat Federation, di mana para pesertanya mengenakan kostum yang hampir mendekati keotentikan sesuai periodenya dan berpartisipasi dalam pertarungan tanpa latihan, tampaknya telah mendapatkan popularitas selama beberapa tahun terakhir, khususnya di Eropa.

Sebagai “olahraga,” para petarung berusaha untuk “membunuh” atau melumpuhkan satu sama lain – mirip dengan pertarungan National Hockey League, kecuali para pemainnya memakai baju besi baja (armor) bukan seragam, dan tentu saja, mereka membawa pedang dan kapak.

Dari tiga tim yang akan meluncurkan JABL, dua tim – Sanglier dan Dracones – akan bertarung dengan senjata ala Barat, sedangkan tim Kuroganeshu akan bertarung sebagai samurai. Para anggota dari masing-masing tim yang terdiri dari tiga orang semuanya memiliki pekerjaan sehari-hari – misalnya sebagai guru bahasa Inggris atau agen penjualan – tetapi mereka juga memiliki pengalaman dalam olahraga tempur, entah itu dalam seni bela diri atau shootboxing untuk para ksatria, atau dalam kendo dan seni bela diri Jepang lainnya untuk para samurai.

knight vs samurai (2)

Acara yang berlangsung di Pink Cow, acara dengan ruang di restoran di Tokyo ini memamerkan beberapa armor ala Barat yang akan tampil di acara pertama JABL tersebut.

Menurut aturan internasional, pertandingannya dibagi dalam berbagai kategori yang kompetitif, termasuk pertarungan satu lawan satu dan antar tim, yang melibatkan semua anggotanya di lapangan. Sebuah panel wasit akan menilai jumlah pukulan dari tiap petarung untuk menentukan pemenangnya, dan dalam pertarungan antar tim, seorang petarung akan dikeluarkan dari pertandingan jika ia terjatuh ke tanah.

Berbagai senjatanya, tentu saja dibuat tumpul. Di Jepang, seperti di banyak negara lainnya, akan dianggap ilegal jika memproduksi senjata yang sesungguhnya. Tapi baju armor replika yang sangat detail, yang dibuat di bawah pedoman yang ketat, bisa berbobot 30 kg. Seluruhnya terbuat dari baja dan kulit, armor ini juga memakan biaya hingga 300.000 Yen. Meskipun armor-nya berat, tidak ada batas berat badan untuk setiap pertandingan, tapi dilarang memukul bagian-bagian tubuh yang lebih halus, seperti paha atau punggung leher dan lutut.

Menendang, mendorong dan berbagai gaya bertarung lainnya diperbolehkan.

Acara perdana Japan Armored Battle League berlangsung pada tanggal 23 Februari di Womb di Shibuya, Tokyo, dari jam 11:30 siang. Tiketnya seharga 3000 – 4000 Yen (barisan depan kursi penontonnya sudah terjual habis). Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.armoredbattle.com.

Source : japantimes.co.jp
COMMENT