SHARE THIS ARTICLE

Sebuah kompetisi yang unik diadakan di Yahaba, Prefektur Iwate, bulan Juni ini, di mana orang-orang berjuang untuk menjadi raja atau ratu membalikkan meja makan chabudai.

chabudai table
Seorang gadis remaja membalikkan meja makan chabudai sambil berkata, “Aku tidak bisa melihat idola ketika ia datang untuk mengunjungi kota kami!” Di Chabudai-gaeshi Sekai Taikai (kejuaraan dunia membalikkan meja Chabudai) di Yahaba, Prefektur Iwate, pada bulan Juni.

Dalam Chabudai-gaeshi Sekai Taikai (kejuaraan dunia membalikkan meja Chabudai), para peserta membalikkan meja chabudai sambil meneriakkan keluhan tentang kehidupan mereka sehari-hari atau berbagai gangguan lain.

Mereka dinilai pada beberapa faktor, termasuk jarak yang ditempuh oleh mainan berbentuk makanan dari tempat mejanya dipasang. Nilai juga diberikan untuk gaya membalikkannya, kostum dan isi teriakan dari para peserta.

Acara ini telah diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2007, dengan tahun ini menandai kejuaraan kedelapan.

Chabudai adalah sebuah meja makan berkaki pendek persegi atau bulat. Sebagian besar rumah tangga di Jepang memiliki satu pada suatu waktu, dan itu adalah bagian dari citra khas dari kehidupan keluarga yang bahagia. Membalikkan chabudai menjadi simbol dari para ayah yang keras kepala di era Showa (1926-1989), setelah adegan terkenal dalam seri anime baseball populer Kyojin no Hoshi (Star of Giants) di mana ayah dari protagonis Hyuma Hoshi, Ittetsu, kehilangan emosinya dan membalikkan meja chabudai yang dipenuhi dengan makanan.

chabudai table4
Meja chabudai dan mainan resmi dari kompetisi ini untuk dibalikkan.

Kontes ini diselenggarakan oleh sebuah kelompok petani yang menjual sayuran segar dari peternakan di sebuah pusat perbelanjaan, Aruco, di kota tersebut.

Promosi dan iklan untuk grup ini dikelola oleh Takako Hirano. Ia muncul dengan ide tersebut sebagai bagian dari upaya untuk merevitalisasi kota, setelah mengambil meja chabudai coklat bulat dari tempat pembuangan dan setelah itu memperbaikinya.

Para pesaing diberi sinyal untuk memulai teriakan mereka ketika seseorang yang berperan sebagai ‘ibu’ dalam apron tradisional Jepang Kappogi berteriak, “Hentikan!” Para peserta kemudian bergantian berteriak dan membalikkan meja chabudai dengan lebar 44 sentimeter dan panjang 29,5 sentimeter.

chabudai table5
Para staf acara mengenakan T-shirt yang menampilkan meja chabudai yang dibalikkan.

Tahun ini, 26 kelompok dengan total 30 orang -yang berusia dari 4 hinga 64 tahun dari berbagai lokasi seperti Tokyo dan berbagai prefektur dari Iwate, Miyagi, Kumamoto turut ambil bagian dalam kontes tersebut.

Teriakan yang paling diingat termasuk “Itu bukan apa yang kamu janjikan sebelum menikah!” “Aku ingin kamu membawaku ke suatu tempat ketika kita punya waktu luang!” atau “Tidak membayar lembur itu konyol!

Para peserta lainnya menyesalkan upaya rekonstruksi yang lamban setelah bencana Great East Japan Earthquake pada Maret 2011, dengan berteriak, “Bahkan setelah tiga tahun, aku masih tinggal di perumahan sementara!

Satoshi Takahashi, seorang wiraswastawan dari Yahaba, mengambil tempat pertama dengan mengeluh tentang istrinya yang bekerja. Ia berteriak, “Berhentilah melarikan diri dari tagihan ketika kita makan di luar!” Dan melontarkan mainan berbentuk makanan hingga sejauh sembilan meter. “Saya merasa sangat baik,” kata Takahashi.

chabudai table2
Satoshi Takahashi, juara tahun ini, menerima meja chabudai emas bersama dengan T-shirt dan beras yang dihasilkan di kota tersebut.
chabudai table3
Pemenang Takahashi membalikkan meja chabudai, hingga melontarkan mainan (di kanan atas) sejauh sembilan meter, jarak terjauh antara peserta tahun ini.

Pada tahun keempat acara ini, hadiah pertamanya diklaim oleh peserta dari Amerika. Ada juga kontestan dari Kanada, Australia dan Perancis di masa lalu, tapi tidak ada peserta dari luar negeri tahun ini.

Sebuah acara yang mirip telah diadakan juga di Tokyo setiap tahun sejak tahun 2012 untuk membantu rekonstruksi di wilayah Tohoku. Tahun ini, akan diadakan pada bulan September di wilayah Ariake di ibukota negara tersebut.

Source : the-japan-news.com
COMMENT