SHARE THIS ARTICLE
MAHIR: Dari kiri, Angelina Qurrata Aziza, Kenji Sekiguchi, Alexander Rizqi Maulana, dan Prince Muhammad Paradise berlatih memperagakan jurus iaijutsu.(Frizal/Jawa Pos)
MAHIR: Dari kiri, Angelina Qurrata Aziza, Kenji Sekiguchi, Alexander Rizqi Maulana, dan Prince Muhammad Paradise berlatih memperagakan jurus iaijutsu.(Frizal/Jawa Pos)

KENJI Sekiguchi bukan nama alias atau julukan. Tapi, itu adalah nama sah laki-laki kelahiran Banyuwangi tersebut. Kenji menyandang nama itu memang bukan sejak kecil. Dia menggunakan nama tersebut pada semua identitas kependudukannya sejak Februari 2008. Lelaki 44 tahun itu secara resmi mengganti namanya lewat penetapan Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo.

”Sekarang di semua identitas saya pakai nama Kenji Sekiguchi,” ujar Kenji saat ditemui di tempat latihannya, Jalan Ngagel Madya, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Untuk membuktikannya, Kenji merogoh dompet dan menunjukkan KTP elektronik (e-KTP). Di situ memang tercetak nama Kenji beserta tanggal lahir, alamat, dan informasi kependudukan lainnya. Kenji juga menunjukkan foto akta kelahiran yang tersimpan di smartphone. Lantas, siapa nama dia sebelumnya? ”Tidak usah ya,” ujarnya.

Bila ada yang menganggap apalah arti sebuah nama, tidak begitu Kenji. Dia amat bangga dengan nama pemberian seseorang yang sangat dihormatinya itu. ”Saya dikasih nama oleh Soke Komei Sekiguchi. Beliau itu grand master iaijutsu,” jelas Kenji.

Iaijutsu merupakan seni bela diri khas Jepang yang menggunakan pedang panjang. Namun, orang lebih familier bila mendengar samurai.

Dia lalu menceritakan pertemuan langsung dengan Komei yang menjadi grand master ke-21 aliran Komei Juku Muso Jikiden Eishin Ryu Iaijutsu. Pertemuan Kenji dengan Komei itu tidak di Jepang, melainkan di New Zealand pada 2007. Kenji datang untuk mengikuti latihan sekaligus menguji gerakan-gerakan iaijutsu yang telah diekuni secara otodidak.

Latihan tersebut berlangsung dua pekan. Tiap hari Kenji harus berpeluh keringat selama 12 jam nonstop di bawah bimbingan langsung Komei. ”Dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam,” kenangnya.

Pertemuan tersebut lantas berlanjut pada Januari 2008. Kenji mengundang langsung Komei ke Sidoarjo. Pada saat itu, Kenji sudah memiliki murid yang dilatih sendiri. Kedatangan Komei tersebut dibarengi latihan maraton enam hari berturut-turut. Setiap hari mereka mempertajam gerakan-gerakan iaijutsu selama delapan jam.

Pada pengujung latihan itulah, Kenji mendapatkan dua anugerah sekaligus. Yakni, peresmian sebagai perwakilan Komei Juku di Indonesia serta pemberian namanya: Kenji Sekiguchi.

Dia menjelaskan, Ken dalam bahas Jepang berarti pedang. Ji memiliki makna ambisi. Sementara itu, Sekiguchi merupakan nama keluarga. ”Kalau diterjemahkan secara bebas, berarti orang yang punya ambisi di jalan pedang,” ungkap Kenji.

Dia pun meminta izin kepada Komei untuk menggunakan nama itu bukan sebatas nama pemberian, tapi menjadi nama sah yang permanen untuk dirinya. Permintaan tersebut disetujui dalam komunikasi melalui e-mail. Setelah itu, semua nama pada sejumlah kartu identitas berubah. Mulai KTP, SIM, hingga akta lahir. Termasuk buku rekening bank. ”Untuk buku rekening itu, saya harus ganti baru. Sebab, tanda tangan saya juga baru, pakai huruf kanji,” jelas dia.

Jauh sebelum menekuni iaijutsu, Kenji sudah melanglang buana di seni bela diri. Sejak kecil hingga remaja, Kenji akrab dengan olah gerak itu. Saat bersekolah di SDN Kedung Anyar, Sawahan, dia belajar kyokushin karate. Bela diri tersebut ditekuni hingga masuk SMP. Ketika duduk di bangku SMA, dia belajar kempo hingga menyandang sabuk cokelat.

”Saya suka bela diri itu karena bapak kandung dan bapak tiri saya juga menekuni bela diri,” tutur anak kedua di antara lima bersaudara itu. Bahkan, dia menyebut ayah tirinya sudah sampai level sabuk hitam Dan 2.

Jalan hidup Kenji ternyata juga pernah menapaki dunia pesantren. Lulus dari SMA Brawijaya, Surabaya, dia nyantri di sebuah pondok pesantren di Kediri selama 1,5 tahun. Dia juga memperdalam ilmu agama dengan mondok di Jombang selama 1,5 tahun. ”Saya fokus mempelajari ilmu hadis. Kutubus sittah (enam kitab),” terangnya sambil menuliskan dua kata terakhir itu dalam huruf Arab.

Enam kitab itu adalah Shahih Buhari, Shahih Muslim, Sunan An-Nasa’i, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah. Semua merupakan kitab hadis terkemuka.

Pada 1994, Kenji mendapat tugas untuk mengamalkan ilmu-ilmu dari pesantren ke tanah Irian Jaya (sekarang Papua). Karena tidak bisa lepas dari seni bela diri, dia pun belajar taekwondo hingga mengikuti kejuaraan tingkat daerah (kejurda). Tapi, dia kalah. ”Saya diajari taekwondo sama jamaah saya,” ungkap dia.

Setelah menyelesaikan misi sebagai penyebar agama, dia diminta ke Surabaya untuk mengajarkan ilmu tentang hadis. Lantas, Kenji memutuskan untuk masuk pesantren lagi di Cokroyasan, Purworejo, Jawa Tengah. Di pondok itulah dia bertemu dengan Annisa Fathra Qonita yang kemudian dinikahi pada 1996.

Dari pernikahan itu mereka memiliki enam orang anak. Yakni, Angelina Qurrota Aziza, 16; Alexander Rizqi Maulana, 14; Prince Muhammad Paradise, 13; Chiquitta Tiara Zafira, 11; Alicia Belle Rahmah, 10; dan Aiko Naomi, 8.

Setelah menikah, Kenji dan istrinya mengadu nasib di Jakarta. Kenji menjadi instruktur di pusat kebugaran. Dari aktivitas itu, dia bertemu dengan orang-orang Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS). Lantas, dia melamar dan diterima di bagian pengurusan visa di Kedubes AS pada 2001. Tapi, karena dianggap menjemukan, dia kembali ke Sidoarjo agar dekat dengan orang tuanya. Dia hanya betah di Jakarta selama dua tahun.

Kenji banting setir membuka usaha warung internet (warnet) dengan modal yang didapat dari sisa gaji saat bekerja di Jakarta. Dari warnet itulah dia mulai berkenalan dengan orang-orang di luar negeri lewat jejaring dunia maya. Dia berjumpa dengan Brett Denison yang berasal dari Colorado. Brett merupakan perwakilan Komei Juku (sekolah komei) di negara bagian barat Amerika Serikat itu. ”Di dunia iaijutsu, Brett itu menjabat Komei Juku Shibucho. Jabatan itu seperti yang saya emban sekarang,” urainya.

Korespondensi dengan Brett berjalan lancar. Dia belajar dengan melihat dan membaca berbagai referensi tentang seni bela diri iaijutsu. Semua gerakan iaijustu bisa dikuasai dengan maksimal pada 2004. Sejak itulah dia memberanikan diri untuk mengajari orang. Lantas, pada Januari 2005, dia meresmikan nama Samurai Indonesia dengan bantuan notaris. ”Saya mengajar sampai luar kota juga. Mulai dari Jogjakarta hingga Jakarta,” imbuhnya.

Kenji juga gemar membuat video saat dirinya berlatih. Secara telaten, dia merekam pula aksi putra-putrinya saat berlatih iaijutsu. Video itu lantas di-upload di situs YouTube dengan judul Samurai Indonesia. Lewat video itulah Kenji akhirnya bertemu juga dengan grand master Komei Sekiguchi.

Kenji menyebutkan, aliran iaijutsu yang dia tekuni itu merupakan aliran pedang panjang. Panjang bilah pedang atau katana tersebut setengah dari tinggi pemakainya. Pengguna pedang itu disebut pula samurai.

Tinggi tubuh Kenji 174 cm. Panjang katana yang dimilikinya 91 sentimeter. Bilah yang begitu panjang itulah yang menjadi tantangan dalam iaijutsu. Terutama saat memasukkan pedang ke sarungnya.

Bagi Kenji yang pernah mengenyam berbagai jenis bela diri, iaijustu malah membuatnya semakin mawas diri. Secara terbuka, dia mengaku orang yang mudah emosional. Bahkan, sewaktu muda, dia beberapa kali bertarung di jalanan. Tapi, itu terjadi sebelum dia mengenal iaijutsu. ”Saat mendalami iaijutsu, saya jadi lebih tenang dan belajar menahan emosi,” ungkapnya.

Hingga saat ini, Kenji beserta keluarganya terus mengembangkan iaijutsu. Tiga di antara enam anaknya telah menjadi guru atau sensei. Tiga lainnya masih belajar dan sampai di level kyu 6. Istrinya menjadi penjahit baju khusus untuk samurai. Istri Kenji juga belajar iaijutsu, tetapi masih kyu 7.

Saat ini lebih dari 300 orang pernah belajar iaijutsu kepada Kenji lewat aliran Komei Juku Muso Jikiden Eishin Ryu Iaijutsu. Kenji juga memiliki tempat latihan (dojo) di gedung badminton Jalan Pahlawan, Sidoarjo, dan sebuah dojo lagi di Jalan Ngagel Madya, Surabaya. Selain itu, ada cabang di Jogjakarta, Tangerang, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Palembang.

Muridnya mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada pengacara, satpol PP, pendeta, pebisnis, dan pegawai bank. ”Belajar iaijutsu bagi anak-anak juga sangat aman. Sebab, mereka akan pakai pedang kayu terlebih dahulu,” sebutnya. (jun/c6/hud)

Source : JawaPos
COMMENT