SHARE THIS ARTICLE
Yoshie Fukuhara, 77 tahun, meletakkan bunga dan berdoa untuk pria berusia 85 tahun yang ditemukan meninggal di apartemennya di Tokyo, pada 21 Maret 2015. Pria yang bekerja sebagai pembersih apartemen hidup sendirian. REUTERS/Toru Hanai
Yoshie Fukuhara, 77 tahun, meletakkan bunga dan berdoa untuk pria berusia 85 tahun yang ditemukan meninggal di apartemennya di Tokyo, pada 21 Maret 2015. Pria yang bekerja sebagai pembersih apartemen hidup sendirian. REUTERS/Toru Hanai

Tak seorang pun penghuni sebuah apartemen di pusat Kota Tokyo, Jepang, mencari tahu keberadaan seorang pria yang sudah sebulan menghilang. Setelah bau menyengat menusuk hidung mereka, baru kecurigaan muncul. Ternyata pria yang lama tak muncul itu telah menjadi mayat di lantai apartemen itu.

Tidak ada yang mencurigakan. Pria 80 tahun itu membayar sewa apartemen tepat waktu. Cuma tak satu pun anggota keluarga menjenguknya, bahkan saat dia meninggal.

Hanya pengelola apartemen, Yoshie Fukuhara, 77 tahun, yang meletakkan bunga di tempat jasad pria tua itu ditemukan lalu memanjatkan doa untuknya.

Kemudian Yoshie menyerahkan proses pembersihan apartemen dan pemakamannya kepada Hirotsugu Masuda dan para pekerjanya.

Kematian seperti ini menjadi semakin umum terjadi di Jepang ketika jumlah orang berusia tua semakin meningkat dan mereka tidak lagi mendapat perhatian dari anggota keluarganya.

Saat ini populasi warga Jepang 127 juta jiwa. Satu dari empat orang Jepang berusia lebih dari 65 tahun. Orang-orang tua ini terisolasi hidupnya hingga ajal menjemput. Kematian orang-orang lanjut usia ini disebut sebagai “meninggal dalam sepi”.

Hal ini mulai semakin umum di dunia, dan pekerjaan ini (membersihkan apartemen dan mengurus pemakaman penghuni lanjut usia yang meninggal) menjadi semakin dikenal,” kata Masuda.

Satu lembaga swadaya masyarakat yang bekerja dalam isu ini memperkirakan jumlah kasus orang meninggal dalam sepi akan semakin meningkat di Jepang.

Sepertinya 40 ribu kasus seperti ini terjadi dalam sepuluh tahun ini. Jumlah ini sepertinya akan bertambah menjadi lebih dari 100 ribu kasus,” ujar Hideto Kone, seorang staf lembaga swadaya masyarakat itu.

Adapun kehadiran Masuda dan para pekerjanya telah membantu para pengelola apartemen dalam proses pembersihan apartemen dan pemakaman orang-orang tua itu.

Masuda menerima upah US$ 676-2.845 atau sekitar Rp 8,8 – 30 juta. Upah ini berdasarkan luas apartemen orang yang meninggal.

Menutup kerjanya, Masuda berdoa dan meletakkan bunga di tempat jasad orang tua itu ditemukan. Kemudian jasad orang yang meninggal dalam sepi itu dimakamkan di tempat pemakaman orang tidak dikenal.

Source : tempo.co
COMMENT