SHARE THIS ARTICLE

Most of What I Know About Writing Fiction
I Learned by Running Every Day

-dari buku What I Talk About When I Talk About Running
Terjemahan Indonesia oleh Bernard Batubara,  pemilik dari blog Bisikan Busuk

Dalam setiap wawancara, saya ditanya begini: hal apa yang penting dimiliki oleh seorang novelis? Jawabannya cukup jelas: bakat. Betapapun kau bersemangat dan berusaha keras untuk menulis, kalau kau tak memiliki bakat sastra, kau bisa melupakan keinginanmu untuk menjadi seorang novelis. Ini lebih kepada persyaratan mendasar. Kalau tak punya bensin, mobil terbaik pun takkan bisa bergerak.

Nah, permasalahan dengan bakat adalah, kita tak bisa mengontrol kualitas atau jumlahnya. Kau mungkin merasa bakatmu tak cukup dan ingin meningkatkannya, atau kau ingin mempertahankan kualitasnya, tapi tak ada satupun dari kedua hal ini yang bisa berhasil dengan mudah. Bakat memiliki pikirannya sendiri dan akan meningkat jika dirinya sedang ingin, dan ketika bakatmu mengering, ya sudah. Yah, tentu saja beberapa penyair atau bintang rock yang jenius tampil sangat memukau-orang-orang seperti Shakespeare dan Mozart, yang kematian dramatisnya membuat mereka menjadi legenda-memiliki kualitas seperti itu, namun bagi kebanyakan kita orang-orang ini bukanlah contoh yang bisa diikuti.

Jika saya ditanya apa hal berikutnya yang penting dimiliki oleh seorang novelis, itu juga mudah: fokus-kemampuan untuk mengumpulkan seluruh bakatmu yang terbatas pada apapun yang sedang kau kerjakan. Tanpa itu, kau takkan mampu untuk menyelesaikan apapun. Saya biasanya berkonsentrasi bekerja selama tiga sampai empat jam setiap pagi hari. Saya duduk di hadapan meja dan fokus pada apa yang sedang saya tulis. Saya tak melihat hal lain, saya tak memikirkan hal lain. Kau tahu, bahkan seorang novelis paling berbakat dan memiliki banyak ide keren sekalipun takkan bisa menulis apapun, jika misalnya, dia sedang tersiksa akan sesuatu. Siksaan dan pikiran-pikiran lain itu menghalau konsentrasi. Itulah yang saya maksud ketika saya berkata bahwa tanpa fokus kau takkan bisa menyelesaikan apapun.

Setelah fokus, hal berikutnya yang penting dimiliki oleh seorang novelis adalah, ketahanan diri. Jika kau berkonsentrasi menulis tiga sampai empat jam sehari dan merasa lelah setelah seminggu, kau takkan bisa mengerjakan naskah yang panjang. Hal yang dibutuhkan oleh seorang penulis fiksi-setidaknya bagi mereka yang ingin menjadi penulis novel-adalah energi untuk fokus setiap hari selama setengah tahun, setahun, atau dua tahun. Kau bisa menganggapnya seumpama bernapas. Jika berkonsentrasi pada proses ibarat menahan napas, maka ketahanan diri adalah seni mengembuskan napas secara sangat perlahan pada saat yang sama dengan menyimpan udara dalam paru-parumu. Jika kau tak bisa menemukan keseimbangan antara keduanya, sulit bagimu untuk menulis novel secara profesional dalam waktu yang panjang. Mengembuskan sembari menahan napas.

Untungnya, kedua hal ini-fokus dan ketahanan diri-berbeda dengan bakat, sebab mereka bisa diperoleh dan diasah lewat latihan. Secara alamiah kau akan belajar baik berkonsentrasi maupun ketahanan diri ketika kau duduk di hadapan meja setiap hari dan berlatih untuk fokus akan satu hal. Ini sama seperti melatih otot. Kau harus mengirimkan sinyal fokus ke seluruh bagian tubuh secara terus-menerus, dan pastikan kau memberikan informasi yang cukup sebanyak yang kau butuhkan untuk menulis setiap hari dan teruslah memperluas batas kemampuanmu. Proses ini sama seperti jogging setiap hari untuk memperkuat ototmu dan membentuk tubuh seorang pelari. Berikan rangsangan dan pertahankan temponya. Lalu ulangi. Kesabaran adalah hal yang harus kau miliki selama proses ini, memang, tapi saya pastikan hasilnya akan terlihat.

Source : bisikanbusuk.com
COMMENT