SHARE THIS ARTICLE

edano-akb-20140429-870x368

Mantan kepala sekretariat kabinet Jepang, Yukio Edano baru-baru ini memuji model bisnis dari pop idol group, AKB48 dalam esai di sebuah majalah. Edano sendiri memperoleh ketenaran lewat pembeberan media selama menjadi kepala juru bicara pemerintah terkait bencana nuklir Fukushima pada Maret 2011.

Politikus itu memuji model bisnis AKB48, demikian yang tertulis pada edisi 1 April dari majalah Witchenkare, sebuah majalah yang kebanyakan kontributornya merupakan calon penulis dan novelis b-list. Dalam esainya, “Popular Songs Change with the Times; Yasushi Akimoto, the AKB strategy and the Japanese economy,” anggota dewan dari Democratic Party of Japan itu berargumentasi bahwa strategi bisnis AKB48 bisa mengefektifkan perekonomian secara umum.

Meskipun penjualan CD tengah mengalami kemerosotan dalam satu dekade terakhir, AKB48 yang diproduseri oleh Yasushi Akimoto itu malah menikmati penjualan CD mereka yang cepat. Itu karena mereka memiliki ide brilian dengan mengijinkan para pembeli untuk bisa berjabat tangan dengan para member AKB48, ataupun ikut serta dalam senbatsu sousenkyo. “Hak untuk ikut serta dalam berjabat tangan dan sousenkyou itu merupakan sebuah nilai tambah yang kalian tak bisa dapatkan melalui musik bajakan atau jika mengunduhnya lewat iTunes atau YouTube,” kata Edano dalam esainya.

Saya biasanya mendengarkan musik di iTunes, tapi secara serius mempertimbangkan untuk membeli CD mereka yang berjudul ‘Sayonara Crawl’,” Edano menambahkan. Ia juga berkata dalam esainya bahwa AKB48, grup yang kira-kira berjumlah 48 gadis yang berusia masih remaja dan 20 tahunan itu tidak memiliki budaya yang sama dengan K-pop, yang merupakan rival mereka dengan musik bergaya barat. Malah, AKB48 memiliki spontanitas gaya Asia. Ia juga berkata para member AKB48 lambat dalam tumbuh dewasa, dan para penggemar menyukai melihat perkembangan mereka, itulah alasan lain mengapa grup musik tersebut sukses.

Orang-orang Jepang saat ini memiliki preferensi yang berbeda dalam musik, yang membuat sulit bagi seseorang untuk bisa muncul menjadi bintang nasional seperti Hibari Misora, Sayuri Yoshinaga atau Momoe Yamaguchi, Edano berpendapat. “Untuk bisa mendapatkan popularitas dalam lingkungan seperti itu, memang masuk akal untuk membentuk grup dengan jumlah anggota yang besar, meskipun tiap member grup tersebut hanya meraih sedikit popularitas,” kata Edano. AKB48 memiliki tiga tim di dalamnya dan beberapa sister group di luar Jepang, yang masing-masing memiliki penggemarnya sendiri-sendiri. Tiap penyanyi individualnya juga memiliki penggemarnya masing-masing, yang berkontribusi dalam popularitas AKB48.

Meskipun popularitas tiap member dan penjualan produk secara individual itu kecil, secara kolektif mereka adalah skala ekonomi Jepang. Strategi ini efektif untuk perekonomian Jepang secara umum,” Edano berkata dalam esainya.

Tulisan Yukio Edano itu menarik perhatian para pengguna internet, karena mantan pejabat pemerintah senior itu mendiskusikan soal AKB48 secara serius di dalam sebuah majalah yang diperuntukkan untuk para penulis pemula. Salah satu komentar pengunjung, “Apakah pria ini memiliki sesuatu untuk AKB?”. Lainnya menambahkan, “Yukio Edano mengomentari soal AKB. Ini gila!

Source : japantimes.co.jp
COMMENT