Berita Jepang | Japanesestation.com

Kata anime tampil dalam bentuk tulisan dalam tiga karakter katakana a, ni, me (アニメ yang merupakan bahasa serapan dari bahasa Inggris “Animation” dan diucapkan sebagai “Anime-shon”.

anime Berikut proses pembuatan anime: 1. Planning Saat memulai proses pembuatan animasi, perencanaan menjadi unsur penting. Bentuk animasi seperti apa. 2. Scenario Setelah perencanaan matang dibuat, maka selanjutnya membuat skenario. Dari sini cerita dibuat dan dikembangkan. Detail karakter juga dijelaskan. 3. Storyboard Skenario adalah bentuk cerita tertulis sehingga perlu divisualisasikan dalam bentuk gambar, agar tim produksi mengerti sepenuhnya detail cerita dan karakter yang akan dibuat. Di sinilah peran story board diperlukan. Dalam story board ini dijelaskan bagaimana karakter tersebut bergerak dalam setiap adegan. Lalu diperhitungkan pula sudut penempatan kamera, cahaya, bayangan, dan manajemen waktu. Story board harus selesai sepenuhnya, karena menjadi dasar dalam rapat antara bagian produksi dan bagian gambar. 4. Menggambar Tahap ini biasanya terbagi menjadi tiga bagian yaitu pembuatan layout, gambar-gambar kunci dan animasi in-between. Dalam proses layout, orang yang bertanggung jawab membuatnya akan banyak memikirkan bagaimana alur gerakan karakter dalam setiap adegan atau detail latar dan masih banyak hal yang lain terkait proses perfilman. Setelah itu, mulai dibuat gambar-gambar kunci. Orang yang bertanggung jawab dalam tahap ini harus menentukan pada titik-titik mana saja pergerakan karakter terjadi. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan gambar in-between yang mengisi gambar kunci tersebut. Hasilnya, gambar itu sepenuhnya bergerak. 5. Mewarnai Dulu proses pewarnaan menggunakan cat dan kuas di atas sel-sel yang disiapkan. Tapi sekarang, karena gambar di scan dalam komputer, pewarnaan bisa dilakukan dengan cara digital. Pewarnaan ini penting untuk memberikan nuansa dan efek pada animasi tersebut. 6. Filmnisasi Tahap ini menyatukan dan merekam seluruh gambar yang sudah disiapkan. Pada proses ini gambar-gambar itu bergerak dan ditambahkan visual efek jika diperlukan. Dulu, animasi tercipta dari hasil memotret frame satu ke frame yang lain. Tapi sekarang sudah menggunakan komputer. Tahap selanjutnya setelah animasi itu menjadi film utuh adalah pengisian suara. Pengisian suara untuk setiap karakternya mulai dimasukkan. Begitu juga efek suara yang lain. Lalu berapa biaya produksi anime per episode? Semua pasti suka nonton anime Voltus, Jeeg, Dragon Ball, Doraemon, One Piece, dll. Meskipun industri animasi AS dan Eropa sudah mengadopsi teknologi 3D bukan berarti anime yang masih menggunakan teknologi animasi 2D ditinggalkan penontonnya. Dari hasil selancar di dunia maya, biaya produksi anime adalah 11 juta Yen/episode atau kurang lebih Rp 1,32 milyar/episode dan untuk 1 season – 12 episode menghabiskan biaya Rp 15,84 milyar. Biaya produksi ini terdiri dari : Original work – 50,000 Yen ($660) – Rp 6 jt Script – 200,000 Yen ($2,640) – Rp 24 jt Direction – 500,000 Yen ($6,600) – Rp 60 jt Production – 2 million Yen ($26,402) – Rp 240 jt Animation Supervision – 250,000 Yen ($3,300) – Rp 30 jt Original Art – 1.5 million Yen ($19,801) – Rp 180 jt Animation – 1.1 million Yen ($14,521) – Rp 132 jt Post-production – 1.2 million Yen ($15,841) – Rp 144 jt Art (backgrounds) – 1.2 million Yen ($15,841) – Rp 144 jt Photography – 700,000 Yen ($9,240) – Rp 84 jt Sound – 1.2 million Yen ($15,841) – Rp 144 jt Materials – 400,000 Yen ($5,280) – Rp 48 jt Editing – 200,000 Yen ($2,640) – Rp 24 jt Printing – 500,000 Yen ($6,600) – Rp 60 jt Satu episode anime rata-rata terdiri dari 25 menit atau sekitar 37.500 frames. Jika biaya produksi anime adalah Rp 1,3 milyar/episode, maka biaya produksi anime per menit adalah Rp 52,8 juta/menit atau Rp 35.200 per frame. Berikut ini daftar biaya produksi anime per episode: 1962 – Astroboy: Rp 252 juta/eps 1982 – Macross: Rp 660 juta/eps 1995 – Evangelion: Rp 750 juta/eps 2000 – ZOIDS: Rp 1,09 milyar/eps 2002 – Gundam SEED: Rp 3 milyar/eps 2004 – Gimdam SEED Destiny: 3,96 milyar/eps 2007 – Gurenn Lagann: Rp 1,3 milyar/eps Mari kita bandingkan dengan biaya produksi animasi barat: 1987 – Ducktales: Rp 5,2 milyar/eps 1999 – Spongebob Squarepants: Rp 6,7 milyar/eps 1999 – Futurama: Rp 12 milyar/eps 2005 – Avatar: The last airbender: Rp 13,2 milyar/eps Jadi bisa kejawabkan kenapa animasi di Indonesia cukup berat untuk bisa “Go International”. Dan terjawab pula kenapa banyak animator lokal akhirnya lebih memilih berkarir di luar negeri. Source: Japanesse For All