SHARE THIS ARTICLE
festivals-quarel-in-japan
Festival Nada diadakan pada tanggal 14-15 Oktober adalah festival yang berwarna-warni dan penuh semangat seperti namanya. (The Asahi Shimbun)

Satu hal tentang Festival “bertarung” Nada di Himeji, Prefektur Hyogo, Jepang: festival tersebut sesuai dengan namanya. Pertama-tama, ada kerumunan besar, yang berdesak-desakan untuk bersaing dengan satu sama lain. Kedua, para peserta bermaksud untuk menyebabkan keributan sebanyak mungkin, biasanya dengan dorong-mendorong sehingga tiga kuil portabel “mikoshi” yang terlibat akhirnya menabrak satu sama lain.

Dua kuil portabel “mikoshi” yang dibawa oleh para lelaki setempat beradu satu sama lain selama Festival Nada di Himeji, Prefektur Hyogo, pada 15 Oktober. (The Asahi Shimbun)

Untuk lebih menambah warna, perhatikan para pria yang berada di sekitar “mikoshi” yang rumit dengan tiang-tiang bambu yang ujungnya diberi pita kertas. Warna-warna stripnya mewakili berbagai sponsor masyarakat setempat. Festival ini diadakan pada tanggal 14-15 Oktober oleh kuil Matsubara Hachimanjinja.

Bagi mereka dengan selera lebih tenang, coba tonton tarian singa Ise Daikagura, sebuah ritual yang mendalami Shintoisme yang diperankan oleh para pemain bertopeng.

Para pemain bertopeng singa menari di festival Ise Daikagura di Kuwana, Prefektur Mie. (Asahi Shimbun file photo)

Karena para pemainnya membawa tarian singa mereka ke bagian barat negara tersebut selama sebagian besar tahun ini, sangat sulit untuk menentukan kapan penampilan akan berlangsung. Oleh karena itu direkomendasikan kuil Masudajinja di Kuwana, Prefektur Mie, yang menempatkan acara ini setiap 24 Desember.

Tari singa Ise Daikagura yang ditampilkan di Kuwana, Prefektur Mie (Asahi Shimbun file photo)

Karena singa tersebut diyakini dapat menangkis kejahatan, para warga mengasosiasikan tarian itu dengan kebahagiaan. Gerakan singa tersebut sering terlihat lucu dan menyenangkan. Sebagai contoh, seorang penari memakai topeng singa dan berbaring tengkurap di lantai seolah-olah “dijinakkan,” menunggu seperti anjing yang datang ke tumit kalian.

Ketika berkaitan dengan berbagai perayaan Shinto, tidak ada yang mengalahkan ritual Kannamesai di bulan Oktober, yang berkaitan dengan bahan makanan Jepang yang paling pokok, yaitu padi. Ritual ini mengambil tempat di Kuil Ise di Prefektur Mie.

Para pendeta Shinto di Kuil Ise memanen padi untuk ritual Kannamesai di sawah milik kuil tersebut di Ise, Prefektur Mie, pada bulan September 2012. (The Asahi Shimbun)

Ritual ini, yang dimulai lebih dari 1.500 tahun yang lalu, memiliki asal-usul dalam mitos dewi matahari Amaterasu Omikami yang menyerahkan sejumput beras kepada cucunya Ninigi no Mikoto dan mengatakan kepadanya bahwa beras harus menjadi makanan pokok rakyat Jepang, dan harus dibudidayakan.

Sejak itu, para kaisar, bahkan hingga hari ini, melakukan berbagai ritual padi tahunan untuk mengucapkan terima kasih kepada dewa untuk panen yang baik.

Acara Kannamesai melibatkan serangkaian ritual rahasia Shinto yang diadakan di tempat suci bagian dalam di kuil. Cara terbaik untuk merasakan festival ini adalah dengan menonton prosesi membawa tanaman padi pertama yang dipanen di sekitar bagian luar kuil Ise pada 15 Oktober.

Kelompok penari dari seluruh Jepang mengadakan berbagai pertunjukan untuk merayakan acara di sepanjang jalan utama yang mengarah dari stasiun kereta api Iseshi menuju kuil.

* * *

Penampilan tarian Ise Daikagura diadakan pada tanggal 24 Desember di kuil Masudajinja di Kuwana, Prefektur Mie. Stasiun kereta api Kuwana berjarak kira-kira 20-menit dengan menumpangi JR atau layanan kereta Kintetsu dari Nagoya.

Source : ajw.asahi.com
COMMENT