SHARE THIS ARTICLE

Ilmuwan Jepang sukses membuat tikus menjadi transparan dengan menghilangkan pigmen yang memengaruhi warna jaringan hewan itu.

Tikus transparan yang diciptakan oleh ilmuwan dari Riken Institute, Jepang. (AFP)
Tikus transparan yang diciptakan oleh ilmuwan dari Riken Institute, Jepang. (AFP)

Kazuki Tainaka, pemimpin proyek ini, mengatakan bahwa keberhasilan ini akan mendukung penelitian tentang perkembangan embrio, kanker, dan organ dalam.

Embrio, kanker, dan organ dalam bisa dipelajari dalam tiga dimensi tanpa melakukan prosedur pembedahan yang selama ini selalu dilakukan.

Untuk menyulap tikus menjadi transparan, Tainaka dan rekannya dari University of Tokyo dan Japan Science and Technology Agency fokus pada molekul bernama heme.

Heme adalah salah satu penyusun senyawa hemoglobin, pigmen yang membuat darat berwarna merah sekaligus berperan mengangkut oksigen ke sel.

Ilmuwan menyuntikkan cairan dengan kadar garam tinggi, membiarkannya disirkulasikan ke seluruh tubuh tikus lewat jantung. Cairan bakal membuat darah keluar dari pembuluh.

Setelahnya, tikus direndam selama 2 minggu dalam zat kimia yang akan memecah hemoglobin menjadi heme dan globin. Pemecahan bakal membuat tikus menjadi transparan.

Untuk menganalisis organ atau jaringan kanker, ilmuwan bisa menggunakan laser. Laser menembus organ, membuat ilmuwan mampu melihat strukturnya dengan detail.

Tainaka mengatakan, “Mikroskop membuat kita mampu mengamati dengan detail, tetapi juga menghilangkan konteks dari apa yang kita amati.”

Dikutip Japan Times, Jumat (7/11/2014), Tainaka mengatakan, metode ini “memungkinkan kita melihat gambarannya lebih besar“.

Hiroki Ueda, ilmuwan yang juga terlibat riset ini, mengatakan bahwa metode ini bisa dipakai untuk mempelajari perkembangan embrio, kanker, dan penyakit autoimun.

Diharapkan, dengan metode ini, ilmuwan bisa mengembangkan pengobatan penyakit secara lebih baik.

Ini juga bisa membantu kita mewujudkan mimpi, membangun sistem biologi dalam level organisme berbasis pada pencitraan seluruh tubuh pada tingkat sel,” kata Ueda.

Source : sains.kompas.com
COMMENT