SHARE THIS ARTICLE

Dengan rentang perhatian dari anak muda semakin pendek, dan para guru harus bersaing dengan segala macam gangguan, para pendidik harus mulai menjadi lebih kreatif dan inovatif. Seorang guru bahasa di SMA Kurashiki Seiryo di Prefektur Okayama, Jepang, sedang mencoba untuk merangkul ide menulis mikro, dengan gaya yang terinspirasi dari Twitter untuk mengajar murid-muridnya tentang bagaimana memahami berbagai karakter dalam berbagai novel.

20140419_takenaka_YS

Miki Mimura yang berumur 47 tahun mengajarkan sastra kepada para pelajar kelas dua, dan membantu mereka agar mau membaca dan memahami karya-karya sastra klasik dan terkenal, ia meminta mereka untuk menyingkat pikiran-pikiran mereka menjadi 60 huruf atau kurang. Kedengarannya seperti mudah kan? Namun para pelajarnya merasa sulit, tapi akhirnya menjadi lebih tertarik daripada metode sebelumnya yang pernah mereka temui. Saat membaca sebuah adegan dari novel Kokoro karya Soseki Natsume, ia tiba-tiba mengatakan kepada murid-muridnya untuk men-“tweet” apa yang suatu karakter tertentu rasakan, dan pikiran-pikirannya terus mengalir. Daiki Ko yang berumur 17 tahun mengatakan, “Tidak mudah untuk memahami novel lama karena itu terjadi di zaman yang berbeda, namun karya tersebut menjadi lebih akrab jika kita mengungkapkan perasaan para karakternya menggunakan kata-kata kontemporer.”

Mimura belajar dari studi pascasarjananya di Universitas Okayama bahwa sekolah-sekolah di Amerika dan Eropa mengajar pelajarnya bagaimana menempatkan diri mereka dalam “sepatu” para karakternya ketika mempelajari berbagai novel dan cerita. Jadi ketika ia mulai memperhatikan bahwa murid-muridnya sangat menyukai Twitter, dengan batas 140 huruf dari jaringan sosial tersebut untuk melakukan berbagai pembaharuan (update), ia memutuskan untuk menggunakannya sebagai titik awal dan mengembangkan program atau sistem yang akan menunjukkan di layar apa yang para para pelajar ketik di komputer kelas, sama seperti Twitter. Profesor Mariko Murai, seorang ahli pendidikan bahasa dari Naruto University of Education, mengatakan bahwa metode pengajaran Mimura memiliki potensi. “Keterampilan pemahaman dan ekspresi diri diperlukan dalam berkomunikasi dan mereka juga akan mengarah pada pengembangan akademik,” tambah Murai.

Source : japandailypress.com
COMMENT