SHARE THIS ARTICLE

Ketsuekigata-kun!, komik tentang jenis-jenis sifat orang menurut golongan darahnya yang digarap komikus Korea Park Dong-sun, berasal dari anggapan populer di Jepang bahwa golongan darah seseorang bakal menentukan sifat dan karakternya.

image: japantimes.co.jp
image: japantimes.co.jp

Di Jepang, sangat lazim bila seorang kawan yang baru dikenal bakal penasaran dan melempar pertanyaan semisal, “A-gata deshou?” (kamu golongan darah A, ‘kan?). Mirip dengan lazimnya kita mendengar pertanyaan serupa di Indonesia mengenai horoskop, “Kamu zodiaknya Scorpio ya?

Tapi sejak kapan penggolongan sifat menurut golongan darah ini jadi beken di Jepang?

Kisaran tahun 1970-an, Nomi Masahiko, seorang jurnalis, menulis buku berjudul Ketsueki-gata de Wakaru Aisho (Memahami Sifat Melalui Golongan Darah). Tulisan Nomi membagi darah ke dalam empat golongan: A, B, O, dan AB.

Masing-masing golongan darah dikatakan membawa sifat-sifat unik tertentu yang tercermin dalam kepribadian orangnya. Misalnya, golongan darah A biasanya adalah tipe yang kinben (tekun), kireizuki (rapi), dan peka terhadap perasaan orang lain; sementara golongan darah O biasanya tipe yang jihatsuteki (spontan), riseiteki (logis), dan selalu punya caranya sendiri menyelesaikan masalah.

Karya Nomi laku keras. Segera setelah buku pertamanya populer, Nomi lanjut menerbitkan tulisan-tulisan lain. Salah satu karyanya membahas bagaimana orang dengan golongan darah tertentu lebih cocok berpasangan satu sama lain. Nomi bahkan juga membuat daftar politisi, atlet, dan artis terkenal dan mengklasifikasikan sifat mereka berdasarkan golongan darah. Oleh Nomi, kategorisasi ini ia sebut sebagai Ketsuekigata ningen-gaku (Antropologi Golongan Darah).

Nomi sendiri, sebetulnya, tidak punya latar belakang pendidikan di psikologi maupun kedokteran sama sekali.

Nomi merupakan lulusan fakultas teknik dan melanjutkan studinya ke bidang hukum. Saat sedang belajar sebagai mahasiswa hukum itulah ia menjadi penulis dan menemukan penelitian kuno (1927) tentang golongan darah yang digarap oleh Takeji Furukawa.

Di awal abad ke-20, saat itu di dataran Eropa sedang berkembang penelitian-penelitian yang mencoba membuktikan bahwa ras dan etnis tertentu lebih unggul karena memiliki tubuh, gen, dan golongan darah yang lebih berkembang dibanding ras dan etnis lain. Di Jerman, penelitian-penelitian ini kemudian dimanfaatkan oleh rezim Jerman Nazi untuk membuktikan bahwa ras Arya lebih unggul daripada yang lain.

Jepang, sebagai sahabat dekat Jerman sejak Restorasi Meiji (1868), pun terkena pengaruhnya. Takeji Furukawa, seorang pengajar di Tokyo Joshi Shihangakko (Sekolah Guru Perempuan Tokyo), pada tahun 1927 menerbitkan “Studi Mengenai Temperamen Berdasarkan Golongan Darah.”

Karya Furukawa menarik perhatian pemerintah; segera setelahnya, mengacu pada kajian Furukawa, rezim militer pemerintah Jepang melakukan penelitian agar bisa melahirkan prajurit-prajurit yang sempurna untuk diturunkan di medan pertempuran.

Furukawa juga diminta oleh pemerintah Jepang untuk melakukan studi golongan darah orang-orang Formosa di Taiwan dan orang-orang Ainu di Hokkaido. Tujuan dari penelitian Furukawa adalah, “untuk mencari tahu kode genetik orang-orang Taiwan yang baru-baru ini memberontak dan berbuat biadab.” Penelitian ini dilakukan setelah orang-orang Taiwan memberontak di tahun 1930 dan 1931 saat Jepang menguasai daratan Tiongkok.

Setelah sains modern berkembang, selanjutnya kita ketahui bahwa penelitian-penelitian mengenai keunggulan genetik atau golongan darah di ras dan etnis tertentu ini adalah penelitian yang tidak melalui proses ilmiah yang pakem. Meskipun di antara orang Jepang barangkali tidak banyak lagi yang percaya bahwa ada ras yang lebih unggul karena punya golongan darah tertentu, tapi klasifikasi sifat menurut golongan darah ini tetap populer di Jepang.

Menurut Yoshiyuki Watanabe, profesor psikologi di Obihiro Chikusan Daigaku (Universitas Pertanian dan Kesehatan Hewan Obihiro), hal ini lantaran budaya Jepang menganggap hubungan darah itu punya peran penting dalam menurunkan sifat tertentu. Lazim ada anggapan, misalnya, seorang ayah pemarah akan mewarisi sifat pemarahnya ke si anak.

Sebab lain, lantaran distribusi golongan darah di masyarakat Jepang relatif seimbang: sekitar 40% bergolongan darah A, 30% bergolongan darah O, 20% bergolongan darah B, dan 10% bergolongan darah AB.

Artinya, kalau ada yang mencoba menebak-nebak golongan darah temannya, ada kemungkinan tebakannya akan benar,” jelas Watanabe. “Dan orang senang kalau tebakannya benar.”

Tentu saja, meski klasifikasi golongan darah ini ternyata tidak terbukti secara ilmiah, tidak ada salahnya kalau percaya untuk sekadar senang-senang. Yang penting jangan sampai mendiskriminasi orang karena golongan darahnya berbeda atau menolak cinta hanya karena tidak cocok dengan golongan darah sendiri.

Sumber:

“Blood types,” The Japan Times

“What does your blood type say about you?”, The Guardian

Becker, Peter (ed.). Criminals and their Scientists: The History of Criminology in International Perspective (Cambridge: Cambridge University Press, 2006)

Source : japantimes.co.jp
COMMENT