SHARE THIS ARTICLE

1

Pengantar dari penerjemah:

Baru-baru ini kita mungkin mendengar bahwa negara bagian Colorado, US telah melegalkan Cannabis (catatan: demi keamanan pembaca di bawah umur dan mereka yang cukup sensitif, maka kami lebih memilih menggunakan istilah ini) untuk digunakan secara umum. Perlahan tapi pasti negara lain mulai mendiskusikan mengenai legalitas tumbuhan ini. Jepang juga mulai menjalankan diskusi kecil-kecilan mengenai hal ini. Bertepatan dengan  Cannabis Internasional Festival 20 April kemarin, seorang penulis kawakan Japan Times, Jon Mitchell menelusuri sejarah dan kaitan budaya dari tumbuhan yang dicintai sekaligus dibenci banyak orang ini. Berikut saduran artikel yang telah kami rangkum.

Saat Junichi Takayasu masih berusia 3 tahun, sebuah buku gambar mengenai ninja mengubah hidupnya. Yang sangat membuatnya tertarik bukanlah kemampuan ninja ataupun alat-alat canggih yang digunakan, melainkan sejenis tanaman yang sangat unik yang sering digunakan oleh ninja.

Buku itu menunjukkan bagaimana ninja tersebut berlatih melompati tumbuhan Cannabis,” ujar Takayasu. “Setiap hari mereka berlatih melompat lebih tinggi karena Cannabis tumbuh sangat cepat. Saya sangat kagum sehingga saya memberitahu ibu saya bahwa saya ingin menanam Cannabis suatu saat nanti.”

Bisa dimaklumi jika ibu Takayasu menjadi stres karena impian anaknya. Hukum anti-Cannabis di Jepang merupakan salah satu hukum yang sangat ketat di dunia, di mana kepemilikan Cannabis –meskipun sangat sedikit– dapat dihukum penjara selama 5 tahun, dan bagi petani Cannabis dapat diganjar hukuman 7 tahun penjara.

Meskipun begitu, Takayasu menolak meninggalkan impiannya itu. Hari ini, 40 tahun setelah ia mengutarakan keinginannya, ia telah menjadi seorang ahli Cannabis dan juga sekaligus kurator museum Cannabis satu-satunya di Jepang, Museum Taima Hakubutsukan. Dibuka pada tahun 2001 di kota Nasu, prefektur Tochigi, terletak kira-kira 160 km di utara Tokyo, tujuan museum ini adalah mengenalkan sejarah Cannabis di Jepang kepada pengunjung yang menurut Takayasu telah ditolak dan dilupakan cukup lama.

2

Kebanyakan penduduk Jepang melihat Cannabis hanya sebagai bagian kecil dari budaya Jepang, tapi mereka keliru,” ujar Takayasu. “Cannabis sudah menjadi hati budaya Jepang selama ribuan tahun.

Menurut Takayasu, bukti paling awal dari penggunaan Cannabis di Jepang bisa diikuti dari periode Jomon (10.000 – 200 SM), di mana tembikar dan relik yang ditemukan di Prefektur Fukui menyimpan bibit dan beberapa bagian serat Cannabis. “Cannabis merupakan salah satu unsur paling penting bagi masyarakat Jepang pada jaman prasejarah,” ujarnya lagi. “Mereka mengenakan pakaian yang terbuat dari serat Cannabis dan mereka juga menggunakannya sebagai tali busur panah dan tali pancing.

Sangat mungkin jenis Cannabis yang banyak digunakan pada periode Jomon merupakan varietas Cannabis Sativa. Jenis ini dikenal akan tanamannya yang tinggi dan batangnya yang kuat, dan banyak digunakan sebagai Hemp pada industri moderen.

Pada beberapa abad berikutnya, Cannabis memiliki peran kunci di Jepang, terutama pada aliran Shintoisme, aliran kepercayaan asal Jepang. Cannabis dijelaskan sebagai pembersih, dan pendeta Shinto menggunakan seikat Cannabis untuk memberkati umat dan mengusir roh jahat. Tali yang ditenun dari serat Cannabis yang digunakan pendeta untuk hal yang sama sering dipamerkan di kuil-kuil. Para pendeta Shinto juga dikenal sering menghias tongkat mereka menggunakan tanaman Cannabis yang telah diberi warna emas.

Cannabis juga sangat penting dalam kehidupan penduduk biasa. Menurut seorang ahli sejarah pada awal abad 20, George Foot Moore, pengelana di Jepang sering mempersembahkan Cannabis pada kuil di tepi jalan sebagai doa untuk keselamatan perjalanan. Ia juga mencatat, pada festival Bon saat musim panas, keluarga membakar seikat Cannabis di depan pintu mereka untuk menyambut roh-roh orang yang sudah meninggal.

Hingga pertengahan abad 20, Cannabis ditanam di seluruh wilayah Jepang, dan paling banyak di Tohoku dan Hokkaido, dan sering disebutkan dalam banyak literatur. Sama seperti referensi tanaman Cannabis dalam latihan ninja, Cannabis juga disebutkan dalam “Manyoshu“, kumpulan puisi tertua di Jepang dan pada literatur yang dicetak di kayu yang banyak di buat pada jaman Edo (1603 – 1868), “Wakoku Hyakujo“. Dalam puisi haiku, kata kunci yang menjelaskan mengenai pertanian Cannabis menceritakan musim di mana puisi tersebut ditulis.

Bersambung ke Part 2.

Source : japantimes.co.jp
COMMENT