SHARE THIS ARTICLE

Tradisi disiplin dalam pengelolaan sampah di Jepang memang tidak main-main. Mulai dari perkantoran, tempat usaha, perumahan, hingga individunya sangat peduli akan pentingnya menjaga lingkungan melalui perilaku ramah lingkungan yang diterapkan.

Salah satu tradisi yang unik dilakukan masyarakat Jepang adalah Gomi Toban. Secara artian bahasa Indonesia Gomi berarti “Sampah” dan Toban berarti “Piket”. Gomi Toban merupakan seni memilah sampah yang biasa dilakukan masyarakat Jepang sebelum diambil atau diserahkan ke petugas kebersihan.

Salah satu yang dipisahkan secara apik yaitu barang-barang rumah tangga yang sudah tidak berguna atau sudah dianggap tidak akan dipakai lagi oleh pemiliknya.

Biasanya Gomi Toban dilakukan di hari tertentu, disesuaikan dengan jadwal pengangkutan/pengumpulan sampah sesuai jenisnya. Khusus barang-barang rumah tangga yang dianggap sudah tidak akan digunakan kembali dipilah dan disimpan di depan rumah masing-masing.

Uniknya lagi, siapapun yang ingin mengambil barang-barang yang diletakkan di depan rumah pemilik barang sebelumnya, diperbolehkan dan gratis nih. Wah, wah, wah, ada yang minat jalan-jalan ke Jepang saat warga di sana melakukan Gomi Toban? 😀

Hal ini tentu saja menjadi salah satu solusi mengurangi jumlah sampah di suatu daerah. Karena barang yang sudah tidak digunakan oleh seseorang bisa dimiliki oleh orang lain dan jadi sesuatu yang dimanfaatkan kembali bagi orang lain.

Lalu bagaimana di Indonesia?

Tradisi atau seni Gomi Toban sepertinya saat ini masih sangat minim ditemukan dan dilakukan masyarakat di Indonesia. Kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya mengurangi dan memilah jumlah sampah yang dihasilkan masih terbilang rendah. Hal ini ditopang dengan banyaknya temuan-temuan dan kasus banyaknya sampah dengan berbagai jenis atau barang-barang rumah tangga yang dibuang ke TPS-TPS tanpa dipilah. Bahkan lebih parahnya di beberapa kawasan banyak sungai-sungai yang kini berfungsi menjadi “tempat sampah” oleh sebagian warga.

Meskipun tidak semua masyarakat di Indonesia demikian, namun jika dibandingkan dengan Jepang dalam keseriusan manajemen sampah tentu saja sangat jauh berbeda dan tertinggal.

Peran Pemerintah, Organisasi, & Komunitas Sangat Berperan di Indonesia

Sadar betul akan rendahnya tingkat kesadaran dan kedisiplinan sebagian besar masyarakat Indonesia dalam manajemen kebersihan, sampah, dan menjaga lingkungan. Peran pemerintah sangat dibutuhkan terutama melalui regulasi-regulasi dan kebijakan yang mendorong masyarakat mau berubah.

Sudah banyak ditemukan peran pemerintah, organisasi lingkungan, dan berbagai komunitas di berbagai daerah di Indonesia yang bergerak. Adanya peran-peran di berbagai tingkatan ini kiranya diharapkan mampu mendorong masyarakat Indonesia lebih peduli dengan kondisi lingkungan sekitar melalui perilaku ramah lingkungan yang dapat diaplikasikan.

(Featured image: JS Navi Auryn & Goldie, photographed by Wawa Wardhana | © Japanese Station)

COMMENT