SHARE THIS ARTICLE
Melalui uji coba dan kegagalan, Tetsuo Kawakami menciptakan tampilan "bonrama" yang menggabungkan bonsai dan diorama. Gerbong kereta yang terlihat dalam foto mengambil model dari yang dioperasikan oleh Keifuku Electric Railroad Co. Foto diambil di Ukyo Ward, Kyoto. (Nanako Ito)
Melalui uji coba dan kegagalan, Tetsuo Kawakami menciptakan tampilan “bonrama” yang menggabungkan bonsai dan diorama. Gerbong kereta yang terlihat dalam foto mengambil model dari kereta yang dioperasikan oleh Keifuku Electric Railroad Co. Foto diambil di Ukyo Ward, Kyoto. (Nanako Ito)

Menggabungkan seni bonsai dengan model kereta api, Tetsuo Kawakami telah menambahkan dimensi baru pada seni pembuatan diorama.

Sebuah tampilan “bonrama” yang khas, sebagaimana ia menyebutnya, menampilkan miniatur pepohonan dan model kereta yang diatur dalam tampilan seperti bonsai di piring selebar 30 sentimeter.

Sembilan tahun setelah seniman tersebut memperkenalkan bonrama pertamanya, karya-karyanya mulai diakui –dan dicari– sebagai bentuk seni.

Lelaki berumur 47 tahun tersebut lahir di Kita-Kyushu, Jepang. Ia menjadi terpesona dengan “dinamika dan keindahan fungsional” dari lokomotif uap yang dilihatnya di Wakamatsu Station di Jalur Chikuho, yang kemudian dioperasikan oleh Japanese National Railways, ketika ayahnya mengajaknya ke sana. Kawakami waktu itu berumur 2 tahun.

Kemudian, ia belajar di sebuah sekolah memasak di Osaka sebelum mendapat pekerjaan sebagai manajer dari sebuah kafe di Nagasaki.

Tapi dia tidak bisa melepaskan kerinduannya pada kereta api. Pada tahun 1999, Kawakami membuka toko model kereta Tetsudo Shonen Sha (rumah untuk anak laki-laki yang mencintai kereta) di kampung halamannya.

Ia menjual model kereta api, namun, hal itu tidak cukup baginya, sehingga ia masuk ke hobi membuat diorama kereta api.

Namun Kawakami tidak begitu cocok dengan para penggemar hardcore sehingga membuat berbagai upaya dengan sungguh-sungguh untuk menurunkan skala kereta api sungguhan dan dengan setia mereproduksi yang asli.

Apa yang saya cari bukanlah ‘reproduksi,” kata Kawakami. “Ini adalah ‘ekspresi’ yang saya dapat dengan bebas menikmatinya tanpa terikat oleh bentuk dan spesifikasi.”

Demi mencari petunjuk untuk mewujudkan keinginannya, Kawakami lalu berpaling ke bonsai.

Dia membuat tampilan bonrama seukuran telapak tangan pada tahun 2004, tetapi tidak puas dengan hasilnya. Dia kemudian mencoba wadah bonsai untuk basis diorama, tapi dia juga merasa itu tidak tepat.

Untuk mulai dari awal, Kawakami lalu pindah dari kota kelahirannya di tahun 2010 untuk mendirikan toko di Kyoto.

Untuk memperkaya imajinasinya, ia duduk bermeditasi di kuil Tenryuji, dekat studionya di distrik Sagano, dan menatap taman batu kuil Ryoanji.

Inspirasi pun muncul: Dia menambahkan pagoda lima tingkat dan kuil Kinkakuji pada latar belakang bonrama berikutnya dan memasukkan daun musim gugur berwarna merah dan bunga sakura untuk pohon-pohon miniaturnya. Dia memilih piring biasa untuk dasarnya agar membuatnya mudah dibawa.

Tak lama kemudian, Kawakami mulai menerima banyak pesanan untuk tampilan bonrama. Dia sekarang membuat sekitar 20 setiap bulannya, termasuk pesanan custom, dan tokonya juga ramai dengan penggemar yang antusias.

Bonrama dibawa hingga selesai ke Kyoto,” kata Kawakami. “Saya ingin orang-orang menghargai bukan hanya dinamisme keretanya, tetapi juga kesenangan yang muncul selaras dengan wabi-sabi (idealisme tentang kesederhanaan dan kemurnian) tradisional.”

Dengan menampilkan tempat wisata terkenal dan kereta api, tampilan bonrama dapat menangkap kenangan indah dari perjalanan yang menyenangkan.

Source : ajw.asahi.com
COMMENT