SHARE THIS ARTICLE

JLeague

Sebelum dimulainya liga profesional Jepang atau biasa disebut J-League, kompetisi sepakbola di Jepang adalah Japan Soccer League (JSL) yang masih bersifat amatir diakhir tahun 60’an. Namun memasuki tahun 80’an, jumlah penonton yang datang ke stadion untuk menyaksikan secara langsung semakin menurun. Akhirnya bulan Maret 1988, asosiasi sepakbola Jepang atau JFA membentuk panitia persiapan untuk liga profesional Jepang. Mereka mempelajari berbagai macam kompetisi sepakbola di dunia, bahkan mereka juga mempelajari liga Indonesia. Tahun 1992 akhirnya Japan Football League terbentuk. Ada 10 tim yang mengikuti J-League. 8 tim dari divisi utama JSL yaitu Gamba Osaka, JEF United Ichihara, Nagoya Grampus Eight, Sanfrecce Hiroshima, Urawa Red Diamonds, Verdy Kawasaki, Yokohama Flügels, and Yokohama Marinos 1 klub dari divisi 2 JSL yaitu Kashima Antlers dan 1 klub yang baru dibentuk yaitu Shimizu S-Pulse. Jadilah 10 tim ini adalah tim bersejarah yang memulai era pesepakbolaan profesional di Jepang.

Yokohama-Marinos
Yokohama Marinos

Setelah itu Yamazaki Nabisco Cup digelar sebagai pemanasan lahirnya J-League dan akhirnya pertandingan pertama J-League digelar tanggal 15 Mei 1993 antara Verdy Kawasaki melawan Yokohama Marinos di Kasumigaoka National Stadium. Dan klub pun diperbolehkan menggunakan pemain asing dengan batas 5 pemain. Ada 2 besar diawal bergulirnya J-League yaitu bintang timnas Inggiris Gary Lineker yang bermain di Nagoya Grampus serta salah satu pemain terbaik Brazil sepanjang sejarah mereka, Zico yang bermain di Kashima Antlers. Arsene Wenger yang sekarang melatih Arsenal juga pernah melatih tim J-League, Nagoya Grampus Eight sebelum pindah ke Inggis. Setelah itu banyak pemain asing lainnya yang berkualitas bermain di J-League. J-League mulai menjadi salah satu liga terbaik di Asia.

Format awal J-League adalah split season dengan 2 season dalam satu tahun kompetisi. Hal ini mirip dengan kompetisi sepakbola di Amerika Latin. Juara season pertama akan bertemu dengan juara season kedua dalam play off untuk menentukan juara liga. Bila suatu tim berhasil menjadi juara season pertama dan kedua maka sudah dipastikan tim tersebut menjadi juara liga tanpa harus ada play off. Perhitung poin pun juga berbeda dengan kompetisi umumnya. Awalnya J-League tidak mengenal hasil imbang. Saat 90 menit kedudukan imbang maka akan diadakan perpanjangan waktu dan bila masih imbang juga akan diadakan adu pinalti. Tim yang menang yang menang mendapatkan 3 poin. Tim yang kalah melalui adu pinalti mendapatkan 1 poin sedangkan tim yang kalah di perpanjangan waktu tidak mendapatkan poin. Kashima Antlers menjadi juara season pertama dan Verdy Kawasaki menjadi juara season kedua. Dan di play off series, Verdy Kawasaki mengalahkan Kashima Antlers dan menjadi juara J-League edisi pertama. Tahun 1996 J-League mencoba menggunakan format satu kompetisi penuh dan Kashima Antlers berhasil menjadi juara. Tahun 1997 format kompetisi kembali berubah menjadi dua season dalam satu tahun kompetisi.

Hidetoshi NakataHidetoshi Nakata
Hidetoshi Nakata

Adanya J-League benar-benar membuat sepakbola bisa menandingi baseball sebagai olahraga populer di Jepang. Kompetisi sepakbola antar sekolah sejak sekolah dasar pun mulai digulirkan. Hal ini berdampak positif terhadap pemain Jepang sendiri. Akhirnya 5 tahun kemudian timnas Jepang berhasil menembus Piala Dunia untuk pertama kalinya tahun 1998 di Prancis. Sejarah yang dibuat setelah membentuk kompetisi profesional yang berbobot. Hal positif ini dilanjutkan dengan Hidetoshi Nakata menjadi pemain Jepang pertama yang pindah ke Eropa dari J-League. Meski sebelumnya ada Kazu Miura yang bermain di Genoa, namun dia tidak berasal dari J-League. Dia meninggalkan Jepang sejak lulus sekolah ke Brazil untuk menjadi pemain sepakbola.  Nakata saat itu dibeli oleh Perugia dari Bellmare Hiratsuka. Nakata pun seperti membuka mata sepakbola dunia dengan adanya J-League. J-League pun menjelma menjadi liga sepakbola terbaik Asia. Pemain Jepang yang bermain di J-League pun mulai banyak dilirik oleh klub dari Eropa setelah itu.

Tahun 1997 J-League sempat merevisi perhitungan poin mereka, dimana tim yang menang dalam perpanjangan waktu cuma mendapatkan 2 poin. Dan tahun 1999 kembali berubah dengan dihilangkannya adu pinalti. Perpanjangan waktu menggunakan sistem golden goal. Memasuki tahun 2003, perhitungan poin di J-League berubah seperti kompetisi lainnya di dunia. Tim yang memenangkan pertandingan akan mendapatkan 3 poin, imbang mendapatkan 1 poin dan kalah tidak mendapatkan poin. Perpanjangan waktu dihapuskan. Mulai tahun 2005 J-League kembali ke format satu kompetisi penuh dengan jumlah 18 tim. Setiap tim bertemu dalam partai kandang dan tandang selama satu musim.

Timnas Jepang
Timnas Jepang

Sanfrecce Hiroshima menjadi juara J-League musim lalu. Ini adalah gelar pertama bagi mereka. Musim kompetisi 2013 kembali diikuti oleh 18 klub dengan format satu kompetisi. 3 tim teratas di klasemen akhir berhak lolos ke AFC Champions League dan 2 tim terbawah akan dagradasi ke divisi 2.  Dan sampai saat ini Kashima Antlers menjadi klub dengan jumlah gelar juara terbanyak dengan 7 kali. Jubilo Iwata dan Yokohama F Marinos berada diposisi kedua pengumpul gelar juara terbanyak dengan 3 gelar. Jepang membuktikan kalau dengan suatu kompetisi profesional yang kompetitif akan berdampak positif dengan prestasi tim nasional. Terbukti Jepang selalu lolos ke World Cup sejak tahun 1998. Dan mereka pun menjadi negara yang paling banyak menjadi juara Asia dengan 4 gelar.

Special Thanks to: Alamsyach ( Deray )

COMMENT