SHARE THIS ARTICLE

Ketika merekrut Alberto Zaccheroni, Japan Football Association (JFA) yakin pelatih dengan pembawaan tenang itu akan membawa Jepang ke level yang lebih jauh di piala dunia.

Di bawah pelatih Takeshi Okada, Jepang tampil melebihi ekspektaksi saat gelaran Piala Dunia 2010, dengan mengalahkan Kamerun dan Denmark. Sebelum akhirnya tim Samurai Biru kalah melawan  Paraguay. Jepang juga berhasil mencapai babak 16 besar sewaktu jadi tuan rumah Piala Dunia 2002.

398552-alberto-zaccheroni

Untuk membawa Jepang  melangkah lebih jauh lagi, JFA merekrut pelatih dengan track record yang sudah terbukti di level tertinggi. Mereka mengandalkan pelatih berusia 60 tahun, Zaccheroni, yang pernah mengantarkan AC Milan menjuarai  Serie A di 1998-99.

Jepang memiliki peringkat lebih rendah daripada kontestan lainnya seperti Pantai Gading, Yunani, dan Kolombia. Hal itu akan membuat mereka sedikit sekali kesempatan untuk melangkah lebih jauh lagi di Brazil.

“Aku telah melatih selama 30 tahun,” kata Zaccheroni, menjelaskan rasa percaya dirinya di luar kurangnya pengalaman dirinya di piala dunia. “Aku merupakan mantan pelatih di Liga Italia, liga terkeras di dunia. Fakta tersebut telah menolongku.” 

Karir kepelatihan Zaccheroni dimulai setelah cedera yang memaksanya untuk pensiun sebagai pemain di usia 30. Karir manajerialnya diawali dengan menukangi Udinese hingga berhasil menempati posisi ketiga di seri A dan tampil di piala  UEFA. Kesuksesannya di Udinese membuatnya direkrut oleh  AC Milan, dan langsung mempersembahkan scudetto  untuk raksasa Italia tersebut. Namun karirnya di Juventus, Torino dan Lazio tak seperti karirnya di Milan. Namun Zaccheroni sudah dikenal sebagai ahli strategi yang cerdik dengan pertahanan rapat.

Dipanggil di 2010, Zaccheroni mengawalinya dengan kemenangan 1-0 melawan Argentina setelah dua bulan menjabat. Padahal Argentina diperkuat oleh Lionel Messi dan Carlos Tevez. Lalu disusul dengan menjuarai Piala Asia 2011. Berikutnya, Jepang berhasil menjadi tim pertama yang lolos ke Brazil setelah imbang 1-1  melawan Australia  Juni 2013.

Namun itu belum menjadi langkah mulus bagi  Zaccheroni. Sebabnya adalah penampilan tak menentu di Piala Konfederasi 2013, di mana Jepang kalah di tiga pertandingan. Kemudian menyusul pula kekalahan Jepang dari Serbia dan Belarus, yang membuat masa jabatannya terancam berakhir saat itu. Ia tak panik. Selanjutnya, ia sukses membawa Jepang menahan imbang  Belanda dan mengalahkan Belgia di pengujung 2013.

Sebelum dirinya, Jepang pernah dilatih oleh pelatih asing juga. Seperti Philippe Troussier yang membawa  Jepang ke babak knockout sebelum dikalahkan Turki. Lalu ada Zico yang membuat Jepang tampil mengecewakan di  2006.

Karena sudah cukup terbiasa menangani pemain-pemain muda berbakat Jepang, Zaccheroni cukup begitu mengetahui cara menghadapi ekspektasi juga.

“Aku cukup berpengalaman untuk mengetahui bagaimana menghadapi beberapa faktor seperti kekuatan tim lawan, panas dan kelembapan, dan sebuah perjalanan. Akan ada banyak tim kuat di piala dunia, tapi di sinilah kesempatan untuk menunjukan seberapa tangguhnya kita,” katanya panjang lebar.

Sumber gambar: www.foxsports.com.au

Source : JAPAN TODAY
COMMENT