Berita Jepang | Japanesestation.com

Banyak orang asing yang belajar di Jepang berharap untuk bisa langsung meneruskan bekerja di negara tersebut. Meski demikian, Jepang memiliki beberapa cara yang berbeda dalam seleksi penerimaan karyawan, yang bagi orang asli Jepang sudah menjadi common sense, namun belum diketahui oleh orang asing, sehingga mempersulit mereka untuk mencari kerja di Jepang walaupun mungkin sudah lancar berbahasa Jepang.

Beberapa waktu lalu, sebuah seminar diadakan di Tokyo untuk para pelajar dari Asia Tenggara yang ingin mencari kerja di Jepang, dan di dalam acara tersebut, para pesertanya mengungkapkan hal yang menurut mereka aneh mengenai mencari kerja di Jepang. Berikut adalah beberapa di antaranya.

  1. Mengisi formulir menggunakan tulisan tangan

Di banyak negara, sebuah resume yang ditulis tangan kemungkinan besar akan langsung ditolak oleh pihak pencari pegawai, karena anggapan bahwa orang dewasa seharusnya bisa menggunakan word processor. Tidak demikian dengan Jepang. Di Jepang, menulis resume dengan tulisan tangan dianggap menyampaikan rasa hormat pemohon akan posisi yang ditawarkan di perusahaan tersebut, dan hal ini juga berlaku untuk pengisian formulir. Bahkan formulir yang tersedia dalam bentuk digital pun seringkali diharuskan diisi dengan tulisan tangan. Tulisan tangan yang digunakan pun harus sangat rapi, karena dianggap menggambarkan keseriusan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut jika si pemohon diterima.

  1. Penampilan yang seragam

Para pekerja di Jepang cenderung berpakaian lebih formal dan konservatif dibanding pekerja di luar negeri. Para pencari kerja pun diharapkan untuk mengenakan setelan yang sangat sederhana. Di Jepang sendiri setelan hitam sangat identik dengan pelajar yang sedang mencari pekerjaan. Rambut para pelamar pun diharapkan untuk berwarna hitam dan dipotong pendek dan rapi untuk para pria, dan diikat bergaya ekor kuda bagi para wanita. Penampilan yang rapi seperti itu dianggap menggambarkan kesiapan pelamar untuk melangkah sebagai orang dewasa.

  1. Wawancara kelompok

Mencari kerja di Jepang

Perusahaan besar di Jepang seringkali mengadakan penerimaan karyawan mereka sekali setahun dalam jumlah besar sekaligus. Karena banyaknya pelamar yang melamar satu jabatan yang sama di perusahaan, beberapa perusahaan seringkali merampingkan proses ini dengan melakukan wawancara secara berkelompok di bagian awal proses. Yang membuat wawancara seperti ini canggung, adalah fakta bahwa meskipun semua yang diwawancara ditanya pertanyaan yang sama, namun tidak semua orang bisa menjawab pertanyan tersebut. Contohnya, salah satu pelajar asing yang menceritakan pengalamannya yang ditanya mengenai pengalaman leadership. Sementara beberapa pelamar menceritakan pengalaman mereka dengan penuh semangat, namun mereka yang tidak punya pengalaman melakukan hal tersebut terpaksa duduk diam sampai pertanyaan selanjutnya.

  1. Tidak tahu pekerjaan apa yang akan dilakukan

Kadangkala, ada perusahaan yang menyediakan posisi yang disebut sogoshoku, atau kerja komprehensif, yang berarti pelamar yang diterima akan dirotasi ke berbagai departemen dalam perusahaan tersebut. Meskipun hal ini akan dapat membantu seorang karyawan baru mengenal cara kerja seluruh perusahaan tersebut, sekaligus mendapatkan berbagai skill dan memahami apa yang bisa dan cocok mereka lakukan dalam pekerjaannya sehari-hari. Di waktu yang sama, melamar pekerjaan tanpa mengetahui tanggunjawab yang ada padanya merupakan hal yang menyulitkan.

Penting untuk dicatat bahwa beberapa hal di atas adalah cara yang digunakan perusahaan di Jepang untuk mengadakan rekrutmen normal pada perusahaan. Aturan-aturan tersebut mungkin akan lebih longgar jika perusahaan tersebut melakukan rekrutmen untuk posisi-posisi dengan fokus pasar internasional.

(Featured image: gori.me, other images: SoraNews24)