SHARE THIS ARTICLE

Ada banyak festival Jepang (matsuri) yang diselenggarakan sepanjang tahun, yang sebagian besar digelar pada musim panas, dan beberapa di antaranya mungkin terlihat unik bagi kita. Jika pada umumnya festival tradisional tersebut terlihat sakral, formal, dan menampilkan penari serta pemain musik tradisional, ada juga festival-festival dengan ritual yang unik atau tidak biasa yang disebut kisai (festival aneh). Berikut ini ada 10 festival Jepang yang paling unik yang diadakan sepanjang tahun dilansir dari savvytokyo.com.

1. Somin-sai (蘇民祭) – Februari

Tahun ini, festival yang dikenal sebagai “Festival Pria Telanjang dan Api” akan diadakan pada tanggal 3 Februari di kuil Kokusekiji, di Mizusawa, prefektur Iwate. Festival yang diadakan saat cuaca sedang dingin di bawah titik beku ini merupakan salah satu tradisi paling terkenal di wilayah Tohoku Jepang utara. Dalam Somin-sai, para pria dari seluruh Jepang menguji daya tahan mereka dengan hampir telanjang dan hanya mengenakan fundoshi (cawat). Di festival bersejarah yang telah ada lebih dari 1.000 tahun ini mereka ditugaskan untuk mendorong para pria telanjang lainnya untuk mengambil Somin bukuro (kantung suci) yang diyakini selama sepanjang tahun akan membawa kesehatan dan kebahagiaan bagi mereka.

2. Dorome Matsuri (どろめ祭り) – April

Festival yang satu ini mungkin banyak disukai oleh para pria, karena penuh dengan nihonshu (sake Jepang) di mana para pesertanya diharuskan untuk meminum semuanya. Dalam festival yang diadakan di Prefektur Kochi ini sebanyak 1,8 liter sake diberikan pada peserta pria, sedangkan peserta wanita hanya mendapatkan 0,9 liter saja. Konon pesertanya akan mengalami nasib baik di tahun selanjutnya jika bisa meminum sake tersebut dalam waktu yang cepat.

3. Onbashira Matsuri (御柱祭) – April & Mei

Festival yang diadakan selama enam hari setiap sekali dalam tujuh tahun di kuil Suwa Taisha, Nagano, ini telah ada sejak 1.200 tahun terakhir. Festival yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai “Great Pilar Festival” ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu yamadashi di mana pada tiga hari berturut-turut di awal bulan April para pesertanya menaiki batang kayu berukuran besar untuk menuruni gunung dan pada pertengahan Mei terdapat bagian satobiki di mana pesertanya memasuki kuil dan mendirikan batang kayu tersebut. Sebelumnya sebanyak empat batang kayu besar, dengan ukuran terbesar sepanjang 16m dan selebar 1m serta dan seberat 10 ton, ditebang di pegunungan oleh warga kota dan dibawa dengan menggunakan tangan mereka menuju ke kuil. Sesampai di kuil, masing-masing kayu itu ditanam secara tegak di empat sudut tempat suci. Dengan mendirikan batang kayu tersebut diyakini bahwa seluruh daerah itu akan diperbaharui secara rohani.

4. Nabe Kanmuri Matsuri (鍋冠祭) – Mei

Nabe Kanmuri Matsuri adalah festival yang digelar di kota Maibara di Prefektur Shiga setiap tanggal 3 Mei dengan menampilkan para gadis cilik berumur 8 tahun yang mengenakan kimono merah dan hijau disebut kariginu (pakaian berburu), dengan panci di kepala mereka. Festival yang menjadi aset budaya kota Maibara ini adalah salah satu festival tertua di Jepang dan yang pernah disebutkan dalam Tales of Ise dari Periode Heian (794-1185). Asal-usul festival ini salah satunya dikatakan untuk keberuntungan karena memberikan makanan sebagai bukti persembahan warga kota kepada para dewa. Sementara ada juga yang menyebutkan bahwa festival ini sebagai pembuktian jika seorang wanita muda tidak perawan, maka panci yang ada di kepalanya akan jatuh.

5. Abare Matsuri (あばれ祭り) – Juli

Digelar pada tanggal 7 dan 8 Juli saat musim panas di Prefektur Ishikawa, Abare Matsuri mungkin adalah satu-satunya festival tergila di Jepang. Festival bertema “api dan kekerasan” ini telah dimulai lebih dari 350 tahun yang lalu. Saat itu para warga kota yang menderita penyakit disarankan untuk memulai festival besar yang akan membantu memecahkan masalah dan secara ajaib menyembuhkan semua orang. Abare sendiri berarti mengamuk, dan para dewa akan lebih senang jika peserta festival ini berperilaku semakin gila-gilaan. Dalam festival ini para pesertanya menghancurkan dan membakar Kiriko (lentera terapung berukuran besar) dan mikoshi (kuil portabel) ke dalam sungai yang mengalir serta menuang sake ke atasnya.

6. Hirakata no Doro Inkyo (平方のどろいんきょ) – Juli

Bersiaplah untuk berkotor ria karena dalam festival yang diadakan di kota Ageo, Prefektur Saitama ini para warga yang berpakaian seperti popok akan melumuri diri mereka sendiri dan mikoshi yang disebut Inkyo dengan lumpur. Mereka lalu melempar mikoshi dan diri mereka sendiri ke dalam lumpur. Mereka meyakini dengan menjaga tradisi ini akan membawa kesehatan dan kebahagiaan. Festival terbesar di Saitama yang diadakan pada tanggal 17 Juli setiap tahunnya ini pada tahun 1982 pernah ditunjuk sebagai kekayaan budaya rakyat kota Ageo dan di bulan Maret 2011 dijadikan sebagai properti budaya rakyat Prefektur Saitama.

7. Muon Bon Odori (無音盆踊り) – Agustus

Festival yang diadakan pada pertengahan Agustus di kota Tokai, Prefektur Aichi ini sekilas tampak dipenuhi oleh orang gila. Awalnya festival ini dimulai pada tahun 2009 akibat dari keluhan para penduduk setempat yang lanjut usia yang tidak bisa tidur dan mendapatkan ketenangan karena keributan dari suara festival setempat lainnya. Para pejabat pun memiliki ide cemerlang membuat “festival bon odori yang tenang” sehingga para peserta festival dari segala usia menarikan bon odori dengan lagu yang diputar secara streaming melalui radio FM.

8. Ryusei Matsuri (龍勢祭り) – Oktober

Ryusei Matsuri adalah festival yang diadakan pada hari Minggu kedua bulan Oktober setiap tahun di kuil Muku di Chichibu, Prefektur Saitama. Festival yang telah ada selama 400 tahun ini menampilkan kompetisi meluncurkan roket yang terbuat dari bambu dan kayu pinus ke langit. Festival yang menjadi bentuk ritual Shinto ini diikuti oleh 27 SMA setempat. Setiap roket yang konon bisa meluncur setinggi tiga ratus meter tersebut adalah hasil kerja keras selama dua tahun dan menampilkan karakteristik unik masing-masing sekolah. Roket itu juga ditambahkan payung kertas kecil, kembang api dan parasut yang disebut shoimono.

9. Paantu Festival (パーントゥプナハ) – Oktober

Festival yang diadakan tiga kali dalam setahun, dengan yang terbesar diadakan pada bulan Oktober atau November, di pulau Miyakojima, Okinawa ini telah ada selama berabad-abad. Festival ini menampilkan orang-orang yang berpakaian tertutup dari kepala sampai kaki dengan lumpur dan dedaunan seperti Paantu, yang berjalan di sekitar pulau untuk mengejar anak-anak dan orang dewasa dengan melemparkan lumpur pada mereka. Paantu sendiri adalah roh-roh jahat yang diberi tugas mengusir setan dan membersihkan pulau tersebut dari nasib buruk. Meskipun ada anak-anak yang menangis, dan beberapa orang dewasa berteriak, namun diyakini jika seseorang disentuh oleh Paantu maka akan membawa keberuntungan di tahun mendatang.

10. Akutai Matsuri (悪態まつり) – Desember

Akutai Matsuri adalah festival mengutuk tahunan di Prefektur Ibaraki di mana orang-orang berkumpul di sekitar Tengu (mahluk berhidung panjang) dan mengutuk atau memarahi mereka. Selama festival itu, kawula muda dan orang tua secara verbal mengutuk 13 biksu yang berpakaian sebagai Tengu, yang membawa benda seperti tikar bambu yang biasa digunakan untuk menggulung sushi, dengan hadiah kecil di dalamnya. Menurut kuil Atago, siapa pun yang berhasil membongkar tikar itu dari tangan para Tengu tersebut akan beruntung di tahun yang akan datang.

Source : savvytokyo.com
COMMENT